Logo Header Antaranews Sumbar

Pengamat: BI Rate Sebaiknya Naik Tujuh Persen

Kamis, 22 Agustus 2013 16:06 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Tony A Prasetiantono mengatakan Bank Indonesia sebaiknya menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 50 basis poin dari 6,5 persen menjadi 7 persen sebelum akhir 2013. "Kebijakan menaikkan BI rate ini sifatnya jangka pendek, bukan strategi jangka panjang. Minimal mengurangi tensi sehingga orang masih mau menaruh uangnya di bank," ujar Tony saat acara "Market Update: Investment Prospect into 2014" di Jakarta, Kamis. Menurut dia, inflasi Juli 2013 sebesar 8,6 persen (yoy) dinilai tidak berimbang dengan BI rate 6,5 persen, akibatnya likuiditas rupiah ditukar ke valas. "BI rate sebaiknya dinaikkan ke minimal tujuh persen, meski langkah ini terlambat," katanya. Ketidakpastian kebijakan stimulus di Amerika Serikat ternyata menyebabkan terjadinya pelepasan aset untuk ditukar ke dolar AS, akibatnya dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia. Di Indonesia, lanjut Tony, terjadi pelepasan aset surat berharga menjadi dolar AS sehingga mengakibatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok, demikian pula kurs rupiah. "Sekarang ini kan pada nyabut untuk beli dolar, saham dijual untuk beli dolar, bahkan sekarang ibu rumah tangga juga beli dolar," ujarnya. Namun, Tony menilai Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat ini memiliki beban psikologis untuk menaikkan BI rate. "Pak Agus tidak mau disebut sebagai rezim suku bunga tinggi jika dikontraskan dengan pak darmin, padahal menurut saya kalau sekrang Pak Darmin masih menjabat Gubernur BI juga harus menaikkan BI rate karena memang situasi," katanya. Tony menambahkan, kebijakan menaikkan BI rate tersebut penting dilakukan mengingat pada September 2013 mendatang utang swasta khususnya korporasi banyak yang jatuh tempo. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026