Logo Header Antaranews Sumbar

Malaysia akan Pulangkan Mahasiswa dari Mesir

Selasa, 20 Agustus 2013 19:19 WIB
Image Print

Kuala Lumpur, (Antara/AFP) - Malaysia akan mengevakuasi 3.300 mahasiswanya dari Mesir mulai Selasa malam setelah beberapa hari terjadi bentrokan yang menewaskan hampir 900 orang, kata seoraang pejabat pemerintah. Pejabat itu, yang berbicara kepada kantor berita Prancis AFP dan tak mau jatidirnya disebutkan, mengatakan keputusan itu dibuat setelah menilai serangan yang terjadi atas paraa pendukung Presiden terguling Mohammad Moursi. "Mereka (pemerintah) memutuskan paling baik memulangkan mereka," kata dia, dan menambahkan bahwa para mahasiswa akan dievakuasi menggunakan penerbangan komersial ke negara-negara tetangga. Media setempat juga mengutip Perdana Menteri Najib Razak yang mengatakan bahwa satu tim penasehat keamanan Malaysia di kairo telah merekomendasikan evakuasi segera para mahasiswa karena situasi semakin tak menentu. "Mulai malam ini, kami akan memesan tiket penerbangan komersial melalui Oman dan Istanbul, di antara destinasi untuk memulangkan para mahasiswa," kata Najib seperti dilansir oleh The Malay Mail Online. Malaysia sebelumnya mengerahkan pesawat militer untuk mengevakuasi ribuan warganya keluar Mesir ketika terjadi kerusuhan menggulingkan Hosni Mubarak, presiden waktu itu, du tahun lalu. Dari Manila AFP meleporkan Filipina pada Selasa memerintahkan evakuasi 6.000 warganya di Mesir setelah Menteri Luar Negeri Albert del Rosario melakukan kunjungan untuk melihat situasi keamanan menyusul terjadinya kekerasan di negara tersebut. Del Rosario juga memerintahkan pengiriman tim khusus ke Kairo untuk membantu mempercepat repatriasi warga negara Filipina dan mereka juga diminta untuk menghubungi pihak kedutaan besar. "Memburuknya ketertiban dan keamanan di Mesir, diperparah dengan ketidakstabilan politik di negara itu, membuat hidup dan bekerja di sana semakin sulit dan berbahaya," kata Kementerian Luar Negeri dalam satu pernyataan. Del Rosario mengunjungi Mesir awal pekan ini, kunjungan kedua dalam dua pekan terakhir, untuk mengamati situasi saat meningkatnya kekerasan, kata jurubicara kementerian Raul Hernandez. Saat di Kairo ia bertemu dengan seorang gadis berdarah Filipina-Mesir yang luka akibat terkena peluru nyasar ketika terjadi bentrokan di Helwan, sebelah selatan Kairo, ibu kota Mesir. Ia melihat gadis itu sudah membaik dan dalam semangat baik, kata kementerian. Pemerintah Filipina pekan lalu mendesak warganya untuk pulang secara sukarela namun kemudian menaikkan tingkat kewaspadaan karena meningkatnya kekerasan yang telah menewaskan 900 orang, menyusul bentrokan di kamp pendukung presiden terguling Mohammad Moursi. Sekitar 10 juta warga Filipina atau sekitar 10 persen dari populasi, bekerja di luar negeri sebagai manajer, tenaga penjualan, pelaut, buruh, pengemudi, serta pembantu rumah tangga, dan mendapatkan gaji lebih tinggi dibandingkan di negara mereka sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, Filipina harus memulangkan warganya dari Suriah, Libya dan ibukota Yaman karena kerusuhan yang terjadi di negara-negara tersebut. Del Rosario mengunjungi Suriah tiga kali pada 2012 dan Libya empat kali pada 2011 untuk membantu warga Filipina yang ingin menghindar dari konflik di sana. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026