Logo Header Antaranews Sumbar

Menlu Uni Eropa Tentukan Sikap Soal Mesir Hari Rabu

Selasa, 20 Agustus 2013 06:54 WIB
Image Print

Brussels, (Antara/AFP) - Para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa akan mengadakan sidang darurat pada hari Rabu untuk menentukan sikap terhadap kekerasan sengit yang berlangsung di Mesir. Uni Eropa (UE) kemungkinan akan menahan bantuan atau pemasokan persenjataan dan akan mengeluarkan desakan bagi dilakukannya penyelesaian politik di negara utama Arab itu. "Kami akan menyikapi situasi saat ini," kata utusan khusus Uni Eropa untuk Mesir, Bernardino Leon, di akhir pertemuan darurat para diplomat tingkat tinggi 28 negara anggota UE. "Namun pada saat yang sama, kami akan tetap menjadi pihak yang secara konstruktif memajukan penyelesaian politik," ujarnya. Terkait dengan pertumpahan darah yang terjadi di Mesir, para diplomat sepakat untuk segera mengadakan pembicaraan tingkat menteri UE, namun tidak mengambil keputusan menyangkut berbagai aspek, dari soal memotong bantuan pembangunan hingga mengesahkan embargo persenjataan ataupun mengkoordinasikan kebijakan tentang Mesir di keseluruhan 28 negara anggota UE. "Tidak ada penyelesaian yang mudah," kata Leon kepada para wartawan. "Kami akan melakukan pembahasan dengan sangat terbuka pada hari Rabu... Pada tahap ini, sangat sulit untuk memperkirakan keputusan-keputusan apa yang akan dihasilkan." Uni Eropa menjanjikan bantuan berupa pinjaman dan hibah kepada Mesir senilai hampir lima miliar (Rp70 triliun) untuk periode tahun 2012-2013. Bantuan itu termasuk satu miliar dari Uni Eropa dan sisanya dari bank-bank Eropa, EIB dan EBRD. Namun, bantuan Uni Eropa itu ditetapkan menjadi tergantung pada reformasi politik dan peradilan setelah terjadinya kerusuhan di Mesir tahun 2011 yang menggulingkan Hosni Mubarak. Sejak tahun 2012, hampir tidak ada bantuan yang disetujui bagi pemerintahan Mesir karena tidak adanya reformasi di negara tersebut. Sementara para duta besar dari Komite Politik dan Keamanan Uni Eropa bertemu di tengah liburan musim panas ini, Arab Saudi menunjukkan sikap yang dianggap tidak simpatik dengan menjanjikan bahwa negara-negara Arab dan Islam akan mengambil langkah membantu Mesir jika negara-negara Barat memutus bantuannya. Leon, yang mengabiskan waktu berminggu-minggu di Mesir dalam upayanya menjadi penengah antara pemerintahan sementara dan para pendukung presiden terguling Mohamed Morsi, mengatakan bahwa lembaga urusan luar negeri UE akan menyiapkan proposal tentang sikap kelompok negara Eropa itu dalam waktu 48 jam mendatang. Diplomat-diplomat UE mengatakan kepada AFP bahwa sejumlah negara telah menunjukkan itikad untuk memutus program bantuan mereka dan bahwa ada kekhawatiran menyangkut pemotongan bantuan tersebut akan mengenai bantuan dalam hal upaya mengurangi kemisikinan dan meningkatkan penghormatan hak-hak asasi manusia. Pertemuan hari Senin dilangsungkan setelah jumlah korban tewas dalam kekerasan lima hari di Mesir memuncak hingga hampir 800 orang hingga mengundang teriakan protes dari masyarakat internasional dan memicu Brussel mengeluarkan peringatan bahwa pihaknya akan "segera meninjau kembali" hubungannya dengan negara berpenduduk terbanyak di Arab itu. Kanselir Jerman Angela Merkel pada Minggu mengusulkan agar pemasokan persenjataan ke Mesir dibekukan, sementara Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle hari Senin menyatakan "terkejut" atas terjadinya "serangan teror" di wilayah perbatasan Sinai di dekat Israel, yang menewaskan 25 polisi Mesir. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026