Logo Header Antaranews Sumbar

Menlu Inggris: Uni Eropa akan Bahas Embargo Senjata Buat Oposisi Suriah

Minggu, 21 April 2013 11:49 WIB
Image Print

Istanbul, (Antara/Reuters) - Uni Eropa akan membahas masalah untuk meredakan embargo senjata, yang mencegah pasokan senjata buat gerilyawan Suriah, dalam beberapa pekan mendatang, kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, Ahad. "Ini adalah pembahasan yang harus kami lakukan di Uni Eropa dalam enam pekan ke depan. Kami dan Prancis telah menyatakan akan ada kasus kuat bagi pencabutan embargo, sehingga mengubah embargo tersebut," kata Hague sebagaimana dilaporkan Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad. Menteri Luar Negeri Inggris tersebut berbicara dalam pertemuan "Teman-teman Suriah" di Istanbul, Turki. Pada Sabtu (20/4), Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengumumkan di Istabul, Turki, negaranya akan menyediakan 120 juta dolar AS lagi dalam bantuan tak mematikan buat oposisi Suriah. Kerry mengeluarkan janji itu, yang akan membuat jumlah seluruh bantuan Washington menjadi 250 juta dolar, dalam taklimat tak lama setelah pertemuan 11 menteri luar negeri dari negara Arab dan Barat di Istanbul. Pada Kamis (11/4) Presiden AS Barack Obama mensahkan bantuan baru tidak mematikan senilai 10 juta dolar AS buat oposisi Suriah. Di Istanbul, William Hague mengatakan oposisi telah memberikan komitmen jelas dalam pertemuan tersebut untuk berusaha mencapai penyelesaian demokratis di Suriah dan mengutuk ekstremisme. Oposisi Suriah, Ahad, menjelaskan pandangannya bagi era setelah Presiden Bashar al-Assad, menolak "segala bentuk terorisme" dan berikrar akan menjadi senjata agar tidak jatuh ke "tangan yang keliru", dalam tanda persetujuan bagi tuntutan para pendukungnya di Barat. Koalisi oposisi berjanji tidak akan membiarkan "tidakan balas dendam terhadap kelompok apa pun di Suriah", dan menyatakan anggota pemerintah Bashar "dengan darah di tangan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban melalui pengadilan yang adil". "Kami menyadari bahwa ada anasir radikal dan ekstremis di Suriah yang mengikuti agenda mereka sendiri. Kami dengan tegas menolak dan mengutuk segala bentuk terorisme dan setiap ideologi atau mental ekstremis, demikian juga yang dilakukan rakyat Suriah," katanya. Front An-Nusra di Suriah, salah satu pasukan gerilyawan yang paling efektif dan memerangi tentara Bashar, secara resmi berjanji setia kepada pemimpin Al Qaida Ayman Az-Zawahiri pada April. Amerika Serikat telah mencap Front An-Nusra sebagai organsasi teroris. Konflik Suriah meletus lebih dari dua tahun lalu sebagai demonstrasi damai guna menentang kekuasaan Bashar tapi secara bertahap berubah menjadi melibatkan senjata. Perang saudara yang terjadi selanjutnya membuat kelompok mayoritas Sunni berhadapan dengan masyarakat Alawi, asal Bashar dan cabang aliran Syiah, dalam konflik yang telah menewaskan lebih dari 70.000 orang. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026