
Menlu Uni Eropa Berencana Bertemu Bahas Irak

Brussels, (Antara/AFP) - Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton siap untuk mengadakan pertemuan para menteri luar negeri membahas krisis di Irak, kata seorang juru bicara Rabu. "Ashton siap untuk mengadakan Dewan Luar Negeri (FAC) sedinipekan ini dan memeriksa dengan negara-negara anggota jika mungkin," kata juru bicara, setelah pertemuan para duta besar Uni Eropa Selasa. Prancis dan Italia telah berhari-hari menyerukan pertemuan tersebut untuk merespon imbauan suku Kurdi Irak untuk senjata dalam menghadapi serangan gencar pejuang jihad di Irak utara. Tetapi beberapa negara berdiam diri terhadap prinsip untuk menyediakan senjata kepada zona konflik, meskipun sumber Uni Eropa menyebut itu terobosan besar, dan tak satu pun dari utusan Uni Eropa yang bertemu Selasa menyuarakan oposisi terhadap imbauan senjata oleh Prancis, Italia dan Inggris. Mengikuti jejak Inggris, Presiden Francois Hollande, Rabu mengatakan Prancis akan memberikan senjata kepada pasukan Irak untuk memerangi pejuang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pada Selasa, Inggris mengatakan akan mengangkut perlengkapan militer ke pasukan Kurdi yang memerangi militan di tengah kekhawatiran Barat krisis bisa menyebar ke seluruh wilayah. Pertemuan Utusan, Selasa dilakukan dalam upaya lebih mengkoordinasikan respon negara-negara anggota terhadap krisis eksekutif Uni Eropa yang disebut darurat dunia yang paling mendesak. Para duta sepakat tentang perlunya mendesak dan meningkatkanbantuan kemanusiaan, tetapi tidak menyerukan pertemuan para menteri luar negeri, yang diperlukan untuk setiap tindakan terkoordinasi besar dengan negara-negara blok. Jika menteri yang bertemu, diharapkan diplomat Uni Eropa juga akanmembahas krisis di Ukraina serta perkembangan terbaru di Gaza. Pada Rabu, Komisi Eropa mendorong bantuan ke Irak 17 juta Euro, meskipun mengatakan akses ke warga sipil yang terkepung adalah tantangan nyata, bukan kurangnya dana kemanusiaan. AS, yang telah melakukan serangan udara terhadap posisi jihad,mengatakan Rabu pihaknya menilai opsi penyelamatan ratusan ribuwarga sipil yang terperangkap di Gunung Sinjar sementara PBB memperingatkan "potensi genosida" di wilayah itu. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
