
Pasukan PBB Patroli Daerah Keamanan Baru Kongo Timur

Kinshasa, (Antara/AFP) - Pasukan perdamaian PBB mematroli daerah keamanan baru di Republik Demokratik Konggo (DRC) yang kacau setelah batas waktu bagi para petempur milisi melucuti senjata berakhir Kamis petang. Kelompok-kelompok pemberontak di sekitar kota Goma yang kacau diberikan waktu sampai pukul 16.00 waktu setempat (21.00 WIB) Kamis "menyerahkan senjata-senjata mereka kepada "pasukan perdamaian PBB MONUSCO dan ikut dalam program demobilisasi. Sampai batas waktu berakhir dan setelah itu tidak jelas berapa banyak petempur yang mematuhi seruan itu, yang kelompok utama pemberontak M23--yang berada di belakang serangan baru 14 Juli, menolak ultimatum itu sebagai tidak relevan. PBB tidak segera memberikan indikasi bahwa tindakan militer telah dimulai atau rencana-rencana di wilayah yang memiliki kekayaan mineral besar bagi satu negara yang luas hampir seluas Eropa barat itu. "Pasukan perdamaian MONUSCO mematroli seluruh daerah keamanan untuk mendukung angkatan bersenjata Kongo," kata juru bicara pasukan perdamaian PBB Kieran Dwyer. "Ini akan terus dilakukan untuk melindungi para warga sipil daerah yang padat penduduknya," tambahnya. Zona keamanan itu diberlakukan di Goma dan daerah-daerah pinggir utaranya termasuk kota Sake. Di Goma, komandan MONUSCO Carlos Alberto Dos Santos Cruz Kamis menjelaskan bahwa batas waktu 48 jam adalah satu "kesempatan untuk ikut serta secara sukarela dalam proses perdamaian". Ia mengatakan pihaknya tidak menargetkan satu kelompok manapun di daerah itu, di mana sekitar 30 kelompok bersenjata aktif. "Tujuan utama adalah penduduk. Kami perlu menciptakan kondisi bagi penduduk untuk hidup dalam situasi yang normal tanpa aksi kekerasan." MONUSCO mengatakan jika kelompok-kelompok seperti M23 tidak dilucuti senjatanya mereka akan dianggap sebagai ancman aksi kekerasan fisik terhadap warga sipil dan MONUSCO akan melakukan segala tindakan yang diperlukan untuk melucuti senjata mereka". "Kami menganggap bahwa tindakan ini tidak menyangkut kami," kata ketua M23 Bertrand Bisimwa.Ia mengatakan para petempurnya tidak berada di daerah selatan Goma itu di mana banyak pertempuran terjadi baru-baru ini. DRC dilanda aksi kekerasan dan perang saudara sejak merdeka dari Belgia tahun 1960, sering dipicu oleh kekayaan mineralnya yang luas dan melibatkan tetangga-tetangganya. Pertempuran tiga hari terpusat di daerah timur di mana kelompok-kelompok bersenjata terus melancarkan serangan dan memerkosa warga. M23, kelompok pemberontak Kongo terutama beranggotakan etnik Tutsi dibentuk tahun 2012, melakukan satu serangan baru terhadap tentara DRC dekat Goma pada 14 Juli, tetapi baku tembak itu berhenti dalam pekan belakangan ini. Para diplomat mengatakan aksi kekerasan baru itu menewaskan ratusan orang. "M23 melakukan penembakan secara membabi buta dan tidak langsung, termasuk dengan senjata-senjata berat, yang mengakibatkan jatuhnya para korban sipil," kata MONUSCO. "M23 juga menembaki instalasi-instalasi PBB. Zona keamanan itu akan mendorong ancaman penembakan tidak langsung terhadap Goma. Brigade intervensi PBB yang beru dibentuk dengan kekuatan 3.000 personil telah digelar di daerah itu. Brigade itu akan bergabung dengan 17.000 personil pasukan keamanan yang telah bertugas di daerah itu bersama MONUSCO,pasukan stabilisasi itu. Missinya adalah melakukan operasi ofensif, sendiri atau dengan pasukan Kongo terhadap pemberontak. PBB juga, Kamis mengatakan pihaknya memerintahkan pesawat mata-mata pertamanya yang dibeli dari perusahaan Italia untuk mematroli daerah-daerah rawan DRC timur. Goma adalah ibu kota Provinsi Kivu Utara, yang berbatasan dengan negara-negara Rwanda dan Uganda. Pemberontak M23 menduduki kota itu pada 20 November tahun lalu dan menguasainya selama 10 hari. Mereka meninggalkan kota itu ketika para pemimpin dari daerah-daerah "Danau Raya" Afrika tengah berjanji untuk melakukan perundingan-perundingan baru, yang dibuka di ibu kota Uganda, Kampala. Para pakar PBB dan pemerintah DRC mengatakan Rwanda telah memasok pasukan dan bantuan militer kepada M23. Tuduhan-tuduhan itu dibantah pemerintah Kigali. Amerika Seriat pekan lalu menyeru Uganda mengakhiri dukungannya pada pasukan pemberontak. Rwanda dan DRC adalah para penandatangan satu rencana perjanjian perdamaian dan keamanan yang diprakarsai PBB Maret setuju tidak melakukan campur tangan dalam urusan dalam negeri masing-masing. Kedua negara telah terlibat dalam konflik yang berlangsung lama dimuat dengan pembantaian (genosida) tahun 1994 terhadap warga Tutsi di Rwanda, para pembunuh dari etnik Hutu kemudian lari ke DRC, yang memicu satu konflik. (*/wij)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
