Logo Header Antaranews Sumbar

Pesisir Selatan Sibuk "Malamang" Sambut Ramadhan

Senin, 8 Juli 2013 19:54 WIB
Image Print

Painan, (Antara) - Warga Kabupaten Pesisir Selatan menyibukkan diri sejak sepekan terakhir melakukan tradisi "Malamang" (Memasak pengamanan khas Minang yang terbuat dari beras ketan" dalam menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan 1434 Hijriyah. "Malamang" merupakan tradisi orang Minangkabau, khususnya masyarakat Pesisir Selatan hingga kini masih tetap menggelar setiap kali menyambut bulan suci Ramadhan dan hari-hari besar Islam , " ujar Rusli Datuk Batuah, seorang ninikmamak (kepala suku adat) di kabupaten itu, Senin. Seperti biasa, memasak pengananan dari beras ketan itu (Malamang) dilakukan warga se pekan hingga se hari menjelang masuknya hari-hari besar dan bulan suci Ramadhan. Namun, yang paling banyak dilaksanakan pada satu hari menjelang Ramadhan dan hari-hari besar Islam tersebut. Menyambut hari-hari besar lainnya tradisi itu sedikit telah berangsur pudar (meninggalkan), namun pada Ramadhan dan 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri) masih tetap ramai. Pada bulan dan hari-hari itu "Malamang" sepertinya sudah merupakan kewajiban bagi warga untuk dilaksanakan. Arti wajib disini bukan seperti dalam agama Islam yang dianut mayoritas masyarakatnya, namun masyarakat akan merasa rendah diri jika tidak melakukan tradisi itu. Menurut dia, semiskin apapun warga kabupaten itu, namun saat memasuki bulan Suci Ramadhan dan 1 Syawal, tradisi "Malamang" tetap dilakukan. Meski mahalnya harga bahan kebutuhan pokok saat itu, tradisi "Malamang" tetap dilakukan. Khusus menyambut 1 Syawal, tradisi "Malamang" dilakukan satu hari sebelum datangnya 1 Syawal. Beda dengan bulan dan hari besar lainnya, masyarakat melakukan sepekan hingga satu hari sebelum datangnya tanggal satu pada bulan itu. "Malamang" merupakan tradisi yang telah dilaksanakan sejak masa nenek moyang masyarakat Pesisir Selatan dahulunya. "Lamang" dimasak oleh kaum ibu. Sedangkan kaum bapak juga mendapat tugas membeli daging sapi yang dipotong diberbagai pasar tradisional sebagai persiapan menu untuk berdoa bersama di rumah masing-masing, " kata dia. Setelah proses "Malamang" selesai, pada malam harinya warga juga melakukan do'a bersama dengan memanggil seorang ulama untuk memimpin do'a bersama dengan tetangga lainnya. Dia menyebutkan, penganan yang terbuat dari beras ketan itu dimasak di luar rumah dengan menggunakan bambu yang dipotong pada ruasnya. Cara memasaknya sedikit agak sulit bagi yang belum terbiasa karena di saat-saat tertentu "Lamang" membutuhkan api besar dan kecil, maka itu tidak semua ibu-ibu di kabupaten itu saat ini bisa memasaknya. (*/jun)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026