
Titik Api di Sumsel Berpotensi Bertambah

Palembang, (Antara) - Titik api atau "hotspot" di wilayah Sumatera Selatan yang sebelumnya masih dalam jumlah normal dan hanya terdapat di dua kabupaten, kini berpotensi bertambah dan menyebar ke 13 kabupaten kota lainnya karena hujan mulai berkurang. "Kondisi cuaca di wilayah Sumatera Selatan yang sebelumnya masih banyak hujan ringan hingga sedang, kini beberapa hari terakhir didominasi berawan," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang, Minggu. Melihat perkembangan iklim yang beberapa hari terakhir cenderung panas, diimbau kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan "hotspot" untuk meningkatkan kewaspadaan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian. Beberapa daerah yang tergolong rawan "hotspot" seperti Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), karena daerah tersebut terdapat banyak lahan gambut serta lahan perkebunan, katanya. Dijelaskannya, secara umum wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota ini, masih tergolong aman dari titik api yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan, lahan perkebunan dan pertanian, serta menimbulkan masalah kabut asap. "Sejak memasuiki musim kemarau pada awal bulan ini hingga kini sebagian besar wilayah Sumatera Selatan belum terdeteksi titik api, dari 15 kabupaten/kota baru ditemukan di dua kabupaten dengan jumlah hanya beberapa titik saja," ujarnya. Dijelaskannya, berdasarkan hasil pemantauan melalui satelit Terra dan Aqua, beberapa hari terakhir terpantau titik api di wilayah Kabupaten Musi Banyausin dan Banyuasin, dengan jumlah berfluktuatif maksimal 10 titik api, sementara 13 kabupaten/kota Sumsel lainnya masih nihil atau belum terdeteksi satupun titik api. Sementara Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumsel MS Sumarwan mengatakan, pada kondisi musim kemarau basah sekarang ini, meskipun masih aman dari "hotspot" masyarakat diimbau tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan dan pertanian. Selain itu juga, perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana angin puting beliung dan tanah longsor, karena beberapa pekan terakhir melanda di sejumlah daerah seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, dan Kota Pagar Alam akibat daerah itu diguyur hujan diserta angin kencang. Untuk mengantisipasi dampak bencana pada musim kemarau, pihaknya berupaya meningkatkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel yang sekarang ini mulai menyiapkan posko untuk penanggulangan kebakaran hutan di setiap kabupaten dan kota terutama di daerah rawan "hotspot", kata Sumarwan yang juga menjabat sebagai Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel itu. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
