Logo Header Antaranews Sumbar

Inggris Pertahankan Suku Bunga Pada 0,50 Persen

Jumat, 7 Juni 2013 07:02 WIB
Image Print

London, (Antara/AFP) - Bank sentral Inggris, Bank of England (BoE), pada Kamis memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utamanya pada 0,50 persen setelah pertemuan kebijakan moneter, yang terakhir untuk Gubernur Mervyn King. BoE juga memutuskan untuk menciptakan lebih banyak uang di bawah program Pelonggaran Kuantitatif (QE) yang bertujuan guna meningkatkan pertumbuhan di tengah rapuhnya pemulihan ekonomi Inggris. "Komite Kebijakan Moneter bank sentral Inggris hari ini memilih untuk mempertahankan Bank Rate, suku bunga resmi yang dibayarkan pada cadangan bank komersial, pada 0,5 persen," bank sentral mengatakan setelah pertemuan dua-hari. "Komite juga memilih untuk memelihara stok pembelian aset yang dibiayai oleh penerbitan cadangan bank sentral di 375 miliar pound (580 miliar dolar AS, 442 miliar euro)." Risalah pertemuan bulanan, yang menjelaskan alasan di balik hasil pemungutan suara dari sembilan anggota Komite termasuk King, akan dipublikasikan pada 19 Juni, pernyataan tersebut menambahkan. King, yang telah memimpin BoE selama satu dekade, masa jabatannya akan berakhir pada bulan ini membuka jalan bagi Mark Carney, yang pekan lalu mengundurkan diri sebagai gubernur bank sentral Kanada, Bank of Canada (BoC). BoE telah mempertahankan suku bunga utamanya pada rekor rendah 0,50 persen -- dan telah memompa total 375 miliar pound ke dalam perekonomian Inggris di bawah QE -- sejak awal 2009. Berdasarkan QE, BoE menciptakan kas (uang tunai) yang digunakan untuk membeli aset seperti obligasi pemerintah dan korporasi dengan tujuan meningkatkan pinjaman dan menghidupkan kegiatan ekonomi. Namun demikian, QE bisa memicu inflasi, karena langkah itu sama saja dengan mencetak uang dan meskipun ekonomi Inggris lolos kembali dari resesi di kuartal pertama, negara berdiri jauh dari menghasilkan pertumbuhan yang kuat menurut untuk para pengamat pasar. Inggris tumbuh sebesar 0,3 persen pada kuartal pertama tahun 2013, data resmi baru-baru ini menunjukkan, kembali ke pertumbuhan dan menghindari resesi ketiga sejak krisis keuangan global 2008. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh pada periode Januari-Maret, setelah jatuh sebesar 0,3 persen dalam tiga bulan terakhir 2012. Itu pada dasarnya tetap meninggalkan ekonomi datar selama enam bulan terakhir, namun Inggris terhindar memasuki resesi -- yang didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut kegiatan ekonomi menyusut. King pada Mei menyerukan tambahan stimulus QE 25 miliar pound pada pertemuan keduanya dari belakang, tetapi kalah suara untuk keempat bulan berturut-turut, risalah menunjukkan. Tugas utama bank sentral adalah menggunakan kebijakan moneter sebagai alat untuk menjaga inflasi tahunan mendekati tingkat target yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,0 persen, dalam upaya untuk melestarikan nilai uang. Inflasi 12 bulan Inggris melambat menjadi 2,4 persen pada April, mencapai titik terendah tujuh bulan didukung penurunan biaya transportasi dan harga minyak, data resmi menunjukkan. Sementara itu BoE telah memperkirakan bahwa perekonomian ditetapkan untuk tumbuh lebih cepat daripada yang diharapkan dalam beberapa bulan mendatang, sementara menekankan pemulihan lemah. Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan lalu mengatakan bahwa Inggris jauh dari "pemulihan yang berkelanjutan", dan menyerukan pemerintah untuk meningkatkan belanja infrastruktur guna mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengimbangi penghematan. Pemerintah Konservatif-Liberal Demokrat, yang dipimpin oleh Perdana Menteri David Cameron, menegaskan bahwa pemotongan tajam belanja negara diperlukan untuk menurunkan rekor defisit anggaran warisan pemerintahan Partai Buruh sebelumnya pada 2010. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026