Logo Header Antaranews Sumbar

AS Desak Hentikan Pertempuran di Kota Mali Utara

Kamis, 6 Juni 2013 10:24 WIB
Image Print

Washington, (Antara/AFP) - Amerika Serikat Rabu menyerukan perundingan untuk mengakhiri pertempuran yang telah mengadu tentara Mali dengan pemberontak bersenjata Tuareg di Mali utara, sehingga pemilu dapat berlangsung. "Amerika Serikat mendukung desakan merundingkan resolusi bagi Kidal yang akan memungkinkan kembalinya pemerintahan sipil sehingga pemilihan presiden dapat dilaksanakan di seluruh wilayah Mali pada 28 Juli," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki. Dalam satu pernyataan, ia juga mengutuk "tindakan yang bermotif penahanan dan pengusiran rasial di Kidal," dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Tentara Mali sebelumnya menyerang posisi pemberontak selatan di daerah ibu kota Kidal pada awal operasi untuk merebutnya kembali dari Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA). Pertempuran meletus setelah lebih dari 100 penduduk kulit hitam diusir dari Kidal oleh MNLA kulit-terang dalam tindakan pemerintah yang telah dicela sebagai "pembersihan etnis." Kerusuhan telah melemparkan bayangan atas pembicaraan antara para pejabat Mali dan para pemimpin Tuareg yang bertujuan untuk membuka jalan bagi pemilihan presiden. Washington menyediakan dana untuk membantu mengatur pemilu, kata Psaki. "Ini adalah bagian penting untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di Mali dan di kawasan, dan akan menetapkan panggung untuk sebuah proses rekonsiliasi nasional yang lebih luas dalam kesatuan Mali," tambahnya. MNLA bangkit untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi utara pada Januari tahun lalu dan disambut tentara pemerintah, dipimpin oleh para perwira tingkat menengah frustrasi untuk meluncurkan kudeta yang menggulingkan presiden terpilih Amadou Toumani Toure. Bersama dengan gerilyawan Al-Qaida, mereka merebut kota-kota utama utara, tetapi kemudian diusir oleh mantan sekutu gerilya mereka. Prancis mengirim pasukan pada Januari untuk memblokir langkah maju gerilyawan di ibu kota Bamako, yang mendorong mereka untuk keluar dari kota-kota utama dan bersembunyi di gurun dan gunung. Prancis kemudian membiarkan MNLA kembali ke Kidal, menimbulkan kekhawatiran di Bamako, 1.500 kilometer (930 mil) di sebelah barat daya, bahwa Paris ingin membiarkan pemberontak Tuareg tetap menguasai sebagian Kidal sebagai bagian dari kesepakatan untuk pemerintahan sendiri. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026