
BBM Naik, Inflasi 7,76 Persen

Jakarta, (Antara) - Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi mencapai sebesar 7,76 persen di akhir 2013 jika harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jadi dinaikkan, lebih tinggi dari asumsi inflasi pemerintah sebesar 7,2 persen. "Kami perkirakan tekanan inflasi akan lebih tinggi, kenaikan harga BBM bersubsidi diprediksi memberikan kontribusi inflasi sebesar 2,46 persen," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat rapat dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin. Prediksi inflasi itu sendiri yakni menggunakan skenario kenaikan harga BBM bersubsidi untuk jenis premium sebesar Rp2.000 dan solar Rp1.000 per liter. Agus mengatakan, prediksi inflasi BI yang lebih tinggi dari pemerintah itu disebabkan karena pihaknya memperhitungkan dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM seperti naiknya biaya transportasi dan juga harga pangan (volatile food). Namun Agus menuturkan, proyeksi inflasi BI bisa lebih kecil hingga mendekati asumsi 7,2 persen jika pemerintah dapat mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM. "Kami kira inflasi bisa mendekati asumsi 7,2 persen jika dampak kenaikan harga BBM bisa diantisipasi," ujarnya. Kendati kenaikan harga BBM bersubsidi menyebabkan tingginya inflasi, lanjut Agus, ia mengatakan dampaknya hanya terasa pada dua hingga tiga bulan pertama setelah terjadi kenaikan. "Setelah itu semua akan normal. Kenaikan harga BBM ini di sisi lain juga justru berdampak positif dalam menjaga fiskal kita," ujarnya. Selain memprediksi inflasi, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,2 persen pada 2013, sama dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang baru saja direvisi dari sebelumnya 6,8 persen. "Semester kedua ekonomi akan menguat karena permintaan domestik naik sebagai dampak dari persiapan pemilu dan ekspor juga bertambah seiring ekonomi global yang membaik, sehingga untuk keseluruhan 2013 kami sejalan dengan pemerintah yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen," kata Agus. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
