
PBB Laporkan "Peluang Baru" Perdamaian di DRC

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Utusan PBB untuk Wilayah Danau Raya Afrika Mary Robinson, Senin (6/5), melaporkan tanda yang membesarkan hati dan "peluang baru" bagi upaya untuk mewujudkan perdamaian di Republik Demokratik Kongo (DRC). "Saya percaya kami saat ini memiliki peluang baru," kata Mary Robinson saat memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan PBB, dalam pertemuan tertutup, melalui hubungan video dari Afrika. Ia mengunjungi DRC, Rwanda, Burundin, Afrika Selatan dan Ethiopia dalam perjalanan satu pekan untuk meminta pendapat para pemimpin politik dan non-pemerintah mengenai penerapan "Kerangka Kerja Sama, Keamanan dan Perdamaian bagi DRC dan Wilayah tersebut". Itu adalah penjelasan pertamanya kepada badan PBB dengan 15 anggota tersebut sejak ia diangkat sebagai utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk wilayah itu pada Maret. "Ada kesempatan baru untuk berbuat lebih banyak dan bukan hanya menghadapi konsekuensi konflik, atau berusaha mengatasi krisis seperti yang terlihat lagi pada November lalu. Ada kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang menjadi pangkalnya dan menghentikannya," katanya. Ia menambahkan meskipun tak ada jaminan keberhasilan, "kami bisa merasa yakin jika itu gagal, konsekuensinya akan besar". Di dalam satu pernyataan kepada Dewan Keamana, Mary Robinson, mantan presiden Irlandia dan mantan komisaris tinggi PBB urusan hak asasi manusia, mengatakan, "Keberhasilan akan memerlukan serangan langkah terpadu habis-habisan yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan di tingkat nasional, regional serta internasional." Ia memberitahu Dewan ia "senang untuk melaporkan sebagian berita yang membesarkan hati", demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. Presiden Rwanda Paul Kagame, Presiden Uganda Yoweri Museveni dan Presiden Burundi Pierre Nkurunziza, katanya, "sudah menyampaikan kesediaan mereka untuk melaksanakan komitmen mereka berdasarkan Kerangka Kerja itu" dan mendukung peran Mary Robinson sebagai utusan PBB untuk wilayah tersebut. Kerangka Kerja tersebut, yang disahkan pada Februari dengan dukungan 11 negara dan empat organisasi internasional --yang dikenal sebagai 11+4, bertujuan mengakhiri lingkaran konflik dan krisis di DRC Timur serta membangun perdamaian di wilayah yang telah lama dirongrong masalah. Ia menambahkan juga membesarkan hati untuk melihat para pemimpin di wilayah itu, terutama Presiden DRC Joseph Kabila dan Presiden Rwanda Paul Kagame, terus saling mengadakan pembicaraan, baik secara bilateral maupun melalui kelompok antar-pemerintah yang dikenal sebagai Konferensi Internasional mengenai Wilayah Danau Raya (ICGLR). Kelompok tersebut dijadwalkan mengadakan pertemuan tingkat tinggi mengenai perkembangan belum lama ini di wilayah itu pada Juli. Kunjungan Mary Robinson dilakukan di tengah ketegangan yang tampak meningkat di wilayah tersebut, saat kelompok bersenjata Gerakan 23 Maret (M23) secara terbuka mencela penggelaran mendatang Brigade Pasukan Campur Tangah di dalam Misi Stabilisasi PBB di DRC (MONUSCO), dan menghentikan apa yang disebut pembicaraan Kampala. Pada Maret, Dewan Keamanan mensahkan penggelaran satu brigade campur tangan di dalam MONUSCO guna melakukan operasi serangan terarah, dengan atau tanpa militer nasional DRC, terhadap kelompok bersenjata yang mengancam perdamaian di DRC Timur. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
