Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Kolombia Desak AS Bebaskan Pemimpin Mereka

Jumat, 3 Mei 2013 07:23 WIB
Image Print

Havana, (Antara/AFP) - Pemberontak kiri FARC Kolombia hari Kamis mendesak tekanan internasional terhadap AS untuk membebaskan seorang pemimpin gerilya yang ditahan agar ia bisa mengambil bagian dalam perundingan dengan pemerintah Bogota. Simon Trinidad diekstradisi ke AS pada 2004 karena penculikan tiga warga Amerika dan kini menjalani hukuman penjara 60 tahun. FARC dan pemerintah Kolombia memulai perundingan di Havana pada November, dan kelompok gerilya itu mendesak Washington mengampuni Trinidad dan mengizinkannya mengambil bagian dalam perundingan itu untuk mengakhiri konflik terakhir Amerika Latin. AS menolak permintaan itu. Ketua delegasi FARC Ivan Marquez membacakan sebuah pernyataan Kamis yang mendesak "solidaritas internasional" bagi Trinidad. Ia juga membacakan apa yang disebutnya kabel diplomatik AS yang disiarkan di situs WikiLeaks yang mengatakan bahwa tidak ada tuduhan kriminal di AS yang membenarkan ekstradisi Trinidad. Menurut Marquez, adalah Presiden Kolombia saat itu Alvaro Uribe yang memerintahkan pengadilan dan intelijen militer untuk memalsukan bukti terhadap Trinidad dan membujuk AS agar menuntut ekstradisinya. Perundingan di Havana yang dimulai pada 19 November itu hingga kini masih terpusat pada masalah sensitif reformasi tanah. Distribusi tanah merupakan salah satu penyulut konflik puluhan tahun di Kolombia, dimana terjadi ketimpangan yang dalam antara pemilik tanah yang kaya dan petani yang miskin. Pemerintah Kolombia dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Perundingan itu dilanjutkan sebulan kemudian di Havana, Kuba. Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal. Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian. Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak. FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. Pemimpin FARC Timoleon Jimenez membantah bahwa negosiasi dengan pemerintah mengisyaratkan gerilyawan berniat segera menyerahkan diri. Pemimpin FARC itu mengatakan, kesenjangan kaya-miskin di Kolombia harus menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam perundingan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026