
Korban Dikeluarkan dari Bangunan Ambruk di Bangladesh

Dhaka, (Antara/Xinhua-OANA) - Tangisan dan teriakan histeris memenuhi udara di Savar di pinggiran Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, Kamis, saat petugas pertolongan mengeluarkan penyintas atau mayat hampir setiap menit dari gundukan puing beton. Saat ribuan orang yang menyaksikan operasi pertolongan, banyak relawan memegang spanduk dengan tulisan dalam bahasa Bangladesh "lebih banyak penyegar udara, oksigen, air, gunting dan pembalut diperlukan" untuk memasok melalui celah di antara reruntuhan untuk orang yang masih terjebak. Saat relawan sedang berusaha menarik perhatian orang yang menyaksikan termasuk kerabat yang berlinang air mata, petugas pertolongan telah terlihat menentang sengatan sinar Matahari saat menggali reruntuhan untuk mencapai sudut yang terpencil dalam upaya mencari lebih banyak penyintas. Rana Plaza, yang terdiri atas delapan lantai, di pinggiran Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, runtuh seperti tumpukan kartu pada Rabu, sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Petugas pertolongan telah melanjutkan upaya tanpa kenal lelah mereka guna mencapai banyak lagi orang yang dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan sehari setelah bangunan itu ambruk di Savar, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam. Jumlah korban jiwa terus bertambah jadi 233. Mereka mengatakan setiap beberapa menit, satu orang yang terjebak dikeluarkan dan segera dibawa dengan menggunakan ambulans ke rumah sakit. Setelah terjadi retakan yang dideteksi cuma sehari sebelum peristiwa itu, para pekerja diungsikan dan pemilik pabrik pakaian mengumumkan cuti pada Selasa (23/4). Namun tak seorang pun terlalu peduli dengan retakan tersebut, ketika para pejabat pabrik memaksa pekerja pada pagi hari berikutnya untuk bekerja di gedung itu. "Kami dipaksa bekerja lagi pada Rabu pagi," kata Selim Mia, yang dengan susah-payah meloloskan diri dari lantai ketiga setelah gedung tersebut ambruk. Sementara itu Miah adalah salah satu dari ribuan orang yang menyaksikan operasi pertolongan. "Saudari saya meninggal. Ia sedang bekerja di pabrik pakaian di lantai lain bangunan itu. Saudara ipar saya yang bekerja bersama saya di lantai yang sama telah hilang. Saya sangat ingin menunggu dia di sini," kata Miah. "Kami enggan masuk kerja. Tapi para pejabat mengancam jika kami tidak bekerja, gaji kami bulan ini takkan diberikan," kata Miah, yang berusia 19 tahun. Namun ia tak bisa memberitahu nama pabrik tempat ia bekerja baru 10 hari sebelumnya. Ia harus bekerja sembilan jam sehari untuk memperoleh 4.000 taka (sekitar 50 dolar AS) per bulan. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah pekerja yang berada di dalam ketika gedung tersebut ambruk. Tapi beberapa sumber mengatakan beberapa ribu pekerja biasa bekerja di lima pabrik --Phantom Apparels, Phantom Tac, Ether Tex, New Wave Style dan New Wave Bottoms-- yang membuat pakaian untuk banyak merek terkenal di dunia. "Para pekerja semua lima pabrik berkumpul pada Rabu pagi di luar gedung. Sejauh yang saya tahu mereka semua dipaksa masuk di tempat kerja mereka masing-masing," kata Miah. Ia menuntut tindakan keras terhadap mereka yang bertanggung-jawab atas bencana itu. Enam dari sembilan lantai bangunan tersebut milik seorang pemimpin Partai Liga Awami --yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina Wajeed dan memerintah di Bangladesh. Ia dilaporkan membangun gedung itu tanpa izin dari pidak berwenang dan meyakinkan para pemilik pabrik bahwa "tak ada masalah meskipun retakan dideteksi". Selain satu cabang bank dan ratusan toko, gedung itu juga berisi lima pabrik pakaian yang, menurut perhimpunan pengusaha pakaian, mempekerjakan hampir 3.500 orang, kebanyakan perempuan. Kebanyakan korban tewas juga perempuan. Sebanyak enam penyintas termasuk lima perempuan dikirim ke rumah sakit pada Kamis, sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Personel militer dan paramiliter telah mengerahkan derek untuk mengangkat bongkahan beton. Namun sampai Kamis sore, alat berat itu tak bisa digunakan karena khawatir terjadinya bencana lain. Menurut petugas pertolongan, banyak tiang dan atap telah ambruk sedemikian rupa sehingga tindakan yang keliru bisa mengakibatkan tragedi baru. Petugas pertolongan mengatakan tabung oksigen telah dibawa ke lokasi untuk memasok udara segar ke dalam lubang dan celah. Seorang relawan mengatakan mereka harus terus mencari korban sekalipun pada malam hari. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
