Logo Header Antaranews Sumbar

Lembaga Pangan PBB Desak Bantu Rakyat Mali

Rabu, 17 April 2013 11:39 WIB
Image Print

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Program Pangan Dunia PBB (WFP), Selasa (16/4), menyatakan organisasi itu "bekerja dengan sangat mendesak" dengan organisasi mitra guna membantau keluarga yang terpengaruh, terutama di Mali Utara, saat negara Afrika Utara tersebut masih dilanda konflik. Sementara itu "musim yang kurus", masa kering tiga-bulan mulai April hingga Juni, mengancam akan menambah parah kelaparan di negara di Wilayah Sahel tersebut, kata WFP. "Saya bisa pergi ke Timbuktu pekan lalu dan melihat sangat betapa kritisnya situasi kemanusiaan," kata Sally Haydock, Direktur WFP di Mali, dalam satu siaran pers. Menurut badan PBB tersebut, satu dari lima rumah tangga di Wilayah Mali Utara --Timbuktu, Gao dan Kidal-- menghadapi kekurangan pangan parah, dan kemerosotan besar konsumsi pangan rumah tangga dalam satu pekan belakangan. "Daerah di sekitar Timbuktu tidak aman dan sulit dijangkau. Pasar tidak berfungsi secara layak. Harga makanan melonjak. Harga bahan bakar tinggi. Terjadi kekurangan likuiditas, yang berarti orang tak bisa membeli kebutuhan dasar," kata Haydock sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu. Mali Utara diduduki oleh gerilyawan garis keras setelah pertempuan berkecamuk pada Januari 2012, antara pasukan pemerintah dan gerilyawan Tuareg, sehingga mengusir ratusan ribu orang dari rumah mereka. Namun, dengan mendekatnya apa yang disebut "musim kurus", WFP berencana menyediakan bantuan pangan buat 145.000 orang di Timbuktu, 86.700 orang di Gao dan 34.500 orang di Kidal. Selain itu, lembaga tersebut berencana menyokong lebih dari setengah juta orang di Mali dengan dasar bulanan meskipun WFP menghadapi kekurangan anggara secara keseluruhan sebesar 159 juta dolar AS. Setelah kunjungannya ke Mali pada awal Maret, Direktur Pelaksana WFP Ertharin Cousin juga menegaskan tekad PBB untuk memberi makan warga di daerah Mali Utara dengan pengiriman pangan melalui darat dan sungai. "Orang masih menderita; krisis belum berakhir," kata Cousin. "Tidak aman di banyak permukiman di Mali Utara dan orang tak bisa pulang. Kami perlu terus menyediakan bantuan sehingga anak-anak bisa terus menerima bantuan makanan." (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026