Solok Gelar Festival kuliner beras dan pulut

id Festivalkuliner,beraspulut,Solok

Solok Gelar Festival kuliner beras dan pulut

Bundo Kanduang dari berbagai kelurahan mengikuti festival makanan tradisional berbahan ketan dan beras. (ANTARA SUMBAR/Tri Asmaini)

Solok (ANTARA) - Pemkot Solok gelar festival makanan tradisional berbahan ketan dan beras

Pemerintah Kota Solok menggelar festival makanan tradisional berbahan beras dan puluik atau ketan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Solok ke-49 pada 2019.

"Pesertanya 15 kelompok dari perwakilan kelurahan dan Kecamatan. Ada 13 kelurahan dan dua perwakilan kecamatan," kata Kasi Industri Kreatif layanan jasa dan usaha Dinas Pariwisata Kota Solok, Patrisia Jwita di Solok, Sabtu.

Patrisia menyebutkan untuk menentukan makanan tradisional yang akan dimasak,pihaknya memakai sistem cabut lot, jadi makanannya di acak setiap kelurahan.

Menurutnya, festival ini digelar untuk menggali dan memperdalam lagi makanan tradisional asli Solok supaya masyarakat tahu dan mengenal kembali.

"Apalagi generasi muda kita saat ini banyak yang sudah tidak tahu makanan tradisional seperti lapek sagan, bubur cande, onde-onde, wajik, dokok-dokok, galu-galu dan lainnya," ujarnya.

Panitia memberikan waktu sekitar tiga jam untuk tim mengolah, membuat hingga penyajian.

Penilaian dimulai dari pengelohan bahan, proses pembuatan, hingga rasa dan tampilan makanan

Agar terasa suasana adatnya dan karena dibuat bundo-bundo kandung kostum lomba dianjurkan memakai pakaian tradisional baju kurung basiba dan tingkuluk (sejenis selendang atau kain yang dipakai seperti pita di atas kepala.

Tim penilai dari tiga unsur yaitu dari ISI Panjang Panjang, Bundo Kanduang, dan guru Tata Boga SMKN 3 Kota Solok.

Beberapa kelurahan seperti Koto Panjang membuat Lapek sagan, Kelurahan Nan Balimo membuat Sarang Bareh, Kecamatan Tanjung Harapan membuat kue talam dan sarikayo, Kelurahan IX Korong membuat Limpiang.

Kelurahan Aro IV Korong membuat bubur hitam,Kelurahan Kampung Jawa, membuat sagun-sagun, Kecamatan Lubuk Sikarah membuat Lapek bugih, Kelurahan Laiang membuat Dokok-dokok seperti lapek sipuluik, yang isinya kelapa dan kacang.

Salah satu peserta, Okti (41) dari Kelurahan Kampai Tabu Karambie membuat galu-galu yang berbahan padi muda, gula anau, kelapa.

"Kegunaannya setelah panen padi, minantu perempuan akan mengantar galu-galu ke tempat mertua," ujarnya.

Galu-galu dibuat sebelum petani akan bertanam padi kembali.*
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar