
Ahli: Kerry Hadapi Penghalang

Jerusalem, (Antara/Xinhua-OANA) - Menteri Luar Negeri AS John Kerry akan menghadapi jalan bergelombang dalam kunjungan mendatangnya ke Israel dan Wilayah Palestina dengan tujuan menghidupkan kembali proses perdamaian yang macet selama lebih dari dua tahun. Meskipun Washington menyebut kunjungan ketiga Kerry ke Timur Tengah dalam satu bulan sebagai "perjalanan mendengarkan", media AS dan Israel menyatakan diplomat senior Washington itu akan berusaha menemukan cara "membangun kembali kepercayaan" dari kedua pihak untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian. Satu tindakan semacam itu yang bisa Kerry lancarkan ialah "membujuk Israel agar membebaskan sebagian tahanan Palestina" yang ditahannya di penjara dan Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) mencabut upayanya untuk menuntut Israel di Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Namun, beberapa pengulas Israel percaya jika ia mau membuat kemajuan nyata, Kerry harus meyakinkan PNA agar berhenti menuntut Israel agar melaksanakan kembali pembekuan pembangunan permukimannya di Tepi Barat Sungai Jordan, seperti yang dilakukannya selama 10 bulan sekitar empat tahun lalu, atau meminta Israel memperbarui pembekuan itu. Apa pun pilihan yang diambilnya, ia akan menghadapi tugas rumit, kata mereka. Joshua Teitelbaum, profesor di Bar-Ilan University, mengatakan kepada Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang-- kelihatannya sangat tidak mungkin pemerintah Israel saat ini mau setuju untuk kembali membekukan pembangunan permukiman. Teitelbaum merujuk kepada dimasukkannya partai sayap-kanan dan pro-pemukim HaBayit HaYehudi (Rumah Yahudi) ke dalam koalisi yang berkuasa di Israel. Ia menyatakan kelompok itu mungkin memasukkan pengaruh untuk menghalangi pelaksanaan pembekuasan semacam itu. "Sangat berat bagi saya untuk menduga akan ada kemajuan dalam hal itu, terutama mengingat pembekuan sebelumnya tidak membuat kemajuan apa pun," kata Teitelbaum. Ia menyatakan selama pembekuan 2009-2010, kedua pihak tidak mengadakan pertemuan dalam sembilan bulan pertama dan ketika mereka akhirnya bertemu, pembicaraan mereka tidak langsung ke inti masalah. Namun, banyak pengulas berpendapat Presiden Palestina Mahmoud Abbas takkan berhenti menekan Israel agar mengakhiri kegiatanp permukimannya di Tepi Barat. "Abbas akan mengangkat masalah permukiman selain masalah lain yang berkaitan dengan pendudukan Isral atas tanah Palestina dan pengungsi Palestina," kata Mohammed Dajani, profesor di Al-Quds University. Selain itu, HAMAS --yang menguasai Jalur Gaza-- menentang setiap bentuk kontak dengan Israel dan telah beredar spekulasi bahwa HAMAS mungkin berusaha meyakinkan rakyat Palestina di Tepi Barat agar turun ke jalan sehingga Abbas takkan pergi terlalu dekat dengan Israel. Oleh karena itu, Dajani berpendapat penengahan pihak ketiga akan kondusif bagi proses perdamaian. "Penting bahwa mesti ada campur-tangan pihak-ketiga, terutama Amerika Serikat, sehingga Israel dan Palestina akan menerima masalah ini secara sungguh-sungguh dan berusaha melakukan apa yang mereka bisa guna mendorong proses perdamaian." (*/wij)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
