Besar manfaatnya, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah perlu diperbanyak

id pembangkit listrik tenaga sampah,energi baru terbarukan,kementerian esdm,pltsa

Besar manfaatnya, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah perlu diperbanyak

Ilustrasi - Pekerja memilah sampah saat uji coba pengoperasian mesin instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019). ANTARA/Risky Andrianto/wsj

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) perlu diperbanyak pembangunannya di berbagai daerah sebagai solusi terhadap krisis energi dengan mengembangkan energi baru dan terbarukan.

Rofik Hananto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, menyebutkan, langkah pemerintah yang menargetkan pembangunan 12 PLTSa pada tahun 2022 mendatang layak untuk diapresiasi.

"Upaya ini adalah langkah konkret pemerintah dalam mengejar target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional Indonesia pada tahun 2025," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Apalagi, lanjutnya, pemerintah juga telah mengatur dalam PP 79/ 2014 untuk memprioritaskan pengembangan energi nasional didasarkan pada prinsip memaksimalkan penggunaan energi terbarukan.

Menurut dia, pembangunan PLTSa tersebut merupakan salah satu langkah tepat dalam mengelola permasalahan sampah perkotaan di Indonesia.

"Sebenarnya upaya pembangunan PLTSa ini menjadi solusi alternatif dalam memenuhi strategi penerapan teknologi penanganan sampah yang ramah lingkungan dan tempat guna. Jadi tidak hanya mengantisipasi krisis energi namun sekaligus sebagai solusi menuju lingkungan yang bersih dan sehat," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kehadiran 12 PLTSa bakal menghasilkan total kapasitas 234 megawatt (MW) dari produksi sekitar 16.000 ton sampah. Dengan potensi dampak positif yang besar itu dinilai akan memberikan masukan permasalahan yang akan timbul dalam aplikasi dilapangannya.

Ia berpendapat bahwa akan ada dua permasalahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu oleh pemerintah, yaitu terkait dengan pengkategorian PLTSa sebagai sumber energi terbarukan, serta definisi terkait dengan penggunaan teknologi ramah lingkungan.

"Misalnya umumnya sampah kota itu dikategorikan sebagai sumber energi terbarukan karena dianggap sebagai bioenergi. Sedangkan pemerintah mendefinisikan tidak semua jenis sampah termasuk dalam kategori bioenergi, namun hanya yang bersumber dari sampah organik saja. Ini semua harus jelas dulu," ucapnya.

Rofik juga menyoroti tentang penggunaan energi termal atau teknologi bakar yang dinilai berdampak kepada sejumlah ancaman kesehatan seperti kanker hingga jantung.

Untuk itu, ujar dia, diharapkan adanya kajian yang mendalam dan menyeluruh dari pemerintah, baik dari aspek hulu hingga ke segi hilir terkait dengan PLTSa ini.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia baru mencapai 8 persen atau sekitar 32 Giga Watt.

“Kita memiliki banyak sumber-sumber energi yang harus kita manfaatkan, seperti geo-thermal, sumber daya air, dan lain-lain. Sumber-sumber energi di Indonesia kurang lebih ada 400 Giga Watt dan terealisasi baru sekitar 8 persen atau 32 Giga Watt,” ujar Arifin di Jakarta, Rabu (6/11).

Arifin menekankan pentingnya menyosialisasikan program-program energi baru terbarukan kepada masyarakat untuk meningkatkan dukungan masyarakat akan hadirnya energi bersih. Pelibatan masyarakat diharapkan akan mendorong dan memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar