Indonesia hadapi kemarau dengan suhu terpanas dalam 140 tahun

id kemarau 2019,kebakaran hutan lahan,dampak karhutla,kebakaran hutan,kebakaran hutan dan lahan,asap karhutla,karhutla

Indonesia hadapi kemarau dengan suhu terpanas dalam 140 tahun

Arsip Foto. Anggota Satgas Karhutla Riau berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (24/9/2019). (ANTARA/Rony M)

Bandung (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) LetjenTNI DoniMonardomengatakan bahwa Indonesia mengalami musim kemarau dengan suhu udara terpanas dalam 140 tahun pada 2019 dan kondisi itu membuat kebakaran hutan dan lahan marak.

"Di Indonesia kebakaran menghanguskan total sekitar 857 ribu hektare, ini sampai dengan tanggal 30 September 2019, dan dari total itu 230 ribu hektarenya lahan gambut, di mana (kebakaran) lahan gambut sulit padam," kata Donidalam acara diskusi di Rektorat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jumat.

Musim kemarau panjang yang melanda Indonesia tahun 2019 menyebabkan kekeringan ekstrem di sejumlah daerah. Akibatnya, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, termasuk kebakaran lahan gambut.

Ia mengatakan bahwa membiarkan lahan gambut mengalami kekeringan adalahsebuah kesalahan, karena lahan gambut yang kering menjadi mudah terbakar dan kalau sudah terbakar apinya sudah dipadamkan.

"Membiarkan lahan gambut itu menjadi kering adalah 'pemerkosaan kepada hutan'," kata Doni

Dia mengemukakan bahwapemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut tidak cukup menggunakan hujan buatan, pengeboman air, maupun pengerahan pasukan pemadam darat karena air yang disiramkan ke lahan gambut secara manual tidak akan meresap sampai ke lapisan dalam gambut.

"Kalau sama helikopter juga hanya sebagian wilayah saja, hanya bisa ditutup pada saat hujan turun," kata dia.

Doni mengimbau warga siaga menghadapi bencana apapun, termasuk kebakaran hutan dan lahan, serta mendukung upaya pencegahan bencana.

"Kita jangan jadi supermarket bencana," kata dia.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar