
Pakar: Perkuat Dialog Aparat dan Warga Poso

Jakarta, (ANTARA) - Pakar Sosial Politik Arie Sudjito berpendapat pemerintah, Kepolisian dan TNI harus proaktif menjalin komunikasi dengan warga Poso, Sulawesi Tengah, melalui dialog-dialog untuk mencegah aksi-aksi provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. "Dialog dan komunikasi dengan warga itu harus terus diperkuat jajaran pemerintah dengan meyakinkan warga Poso dengan jaminan keamanan sipil dan mencegah masuknya provokator," kata Arie Sudjito saat dihubungi dari Jakarta, Jumat. Akdemisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengatakan Kepolisian dan TNI harus berinisiatif untuk mencipatkan kerukunan di Poso dengan beberapa upaya termasuk merangkul para tokoh masyarakat dan pemuka agama. Salah satu upayanya dapat dengan mengaktifkan forum kerukunan bergama antarmasyarakat untuk mendekatkan individu antarwarga dan mencegah masuknya provokator. Arie menjelaskan teror yang berulang kali terjadi di Poso, seharusnya sudah bisa dideteksi aparat Kepolisian atau Densus 88 dan TNI untuk kemudian dicari cara penanganan yang paling tepat. Hal lain, menurut Arie, yang bisa menjadi fokus pemerintah adalah mengurangi kesenjangan pada masyarakat baik dalam segi sosial maupun ekonomi, agar kedekatan antar individu dalam masyarakat terus terjalin. Dengan begitu pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin memprovokasi warga bisa dicegah untuk masuk ke dalam lingkungan masyarakat karena kedekatan itu. Lebih lanjut, Arie menjelaskan upaya ini bisa memposisikan peran pemerintah dalam situasi konflik, dimana menjadi pelindung dan pengayom untuk masyarakat. "Pemerintah jangan sampai berada dalam posisi konflik yang malah dimusuhi masyarakat," katanya. Arie menjelaskan hal tersebut terkat gangguan keamanan di Poso yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Gangguan kemanan tersebut adalah penemuan dua jenazah polisi pada 16 Oktober 2012, percobaan pembakaran tempat ibadah, dan ledakan bom di Pos Lantas yang berjarak 100 meter dari Rumah Dinas Bupati Poso yang keduanya terjadi pada 22 Oktober 2012. Markas Besar Kepolisian Negara RI mengaku sudah mengirim tim untuk membantu jajaran Kepolisian Resor Poso dan TNI guna menyeldiki "dalang" dan motif gangguan kemanan ini. Beberapa aksi gangguan keamanan ini sering dikaitkan kepolisian dengan lokasi pelatihan kelompok teror di Gunung Biru, kawasan Tamanjeka, Poso, Sulawesi Tengah. Sejauh ini, terdapat dua tersangka berinisial I alias S dan AB yang diduga merupakan anggota pelatihan kelompok teror pimpinan terduga teroris yang sangat dicari-cari polisi yakni Santoso. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
