Logo Header Antaranews Sumbar

35 persen gangguan jaringan PLN akibat pohon dan tali layangan

Jumat, 9 Agustus 2019 06:45 WIB
Image Print
Kegiatan Press Gathering digelar PLN UIW Sumatera Barat (Ist)

Maninjau (ANTARA) - Sebesar 35 persen gangguan PLN penyebabnya memang dari pohon yang berada dekat jaringan tegangan tinggi dan sedang, serta tali layangan yang banyak menyangkut di kabel.

"Berdasarkan catatan PLN, yakni 35 persen atau dominan pemicu gangguan terjadi akibat pohon dan tujuh persen tali layangan," kata Manager Komunikasi PLN Unit Induk Wilayah Sumbar Remialis di Maninjau, Jumat.

Ia mengungkan, di sistem kelistrikan Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) beberapa bulan lalu sempat juga terganggu karena ulah pohon yang mengena jaringan Sutet.

Namun, penanganannya bisa lebih cepat sekitar tiga jam sudah dapat diatasi dan kembali pulih.

"Karenanya dukungan dan partisipasi masyarakat sangat penting untuk mengikhlaskan kalau ada pohon produktif harus dipangkas, guna cegah gangguan," imbaunya.

Maneger Efisiensi Mutu Pengukuran Distribusi PLN Sumbar Hendriansyah (berdiri) sedang pemaparan. (Ist)
Sementara itu, Manajer Efisiensi Mutu Pengukuran Distribusi PLN UIW Sumbar, Hendriansyah menambahkan, bila adanya dukungan masyarakat tentu dapat mengantisipasi dan mencegah terjadinya pemadaman listrik akibat gangguan.

Justru itu, perlu menjadi perhatian khusus termasuk terkait tali layangan. Hendri mengatakan, petugas PLN terpaksa pakai galah panjang dengan diujungnya dinyalakan api untuk mutuskan tali layangan yang menyangkut di kabel listrik, khususnya di jaringan tegangan sedang dan menengah.

Ia mengatakan, sebanyak 90 persen instalasi PLN, mulai dari transmisi, gardu induk dan jaringan distribusi, ada di lingkungan masyarakat.

Karenanya potensi gangguan yang disebabkan oleh pohon, tali layangan pun juga sangat memungkinkan terjadi. Berdasarkan catatan petugas PLN pemicu dari tali layangan tujuh persen, tambahnya.

Selain itu, karena transmisi, gardu induk ada yang melewati perbukitan, lembah dan hutan belantara, sehingga potensi gangguan disebabkan binatang sering terjadi juga, bahkan sampai 31 persen.

Begitulah, kata di, listrik sampai ke rumah masyarakat begitu jauh mulai dari hulu adalah pembangkit, artinya prosesnya tidak sesederhana dibayangkan.

"Gangguan jaringan PLN itu dominan secara eksternal, maka petugas selalu harus siap siaga melakukan penanganan saat terjadi gangguan, tapi tetap butuh waktu karena ada lokasi di dalam hutan dan pada malam hari pula peristiwanya," katanya.

Kegiatan Press Gathering digelar PLN UIW Sumatera Barat (Ist)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026