Koperasi wanita Paduli Basamo bertahan dengan dana PNPM

id koperasi

Pengurus Koperasi Wanita "Paduli Basamo" Kabupaten Tanah Datar. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)

Batusangkar, (ANTARA) - Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) resmi dihentikan pemerintah pada 31 Desember 2014 setelah berjalan selama tujuh tahun sejak dimulai 2007.

Praktis semua kegiatan yang berada di bawah naungannya, secara otomatis juga kehilangan legitimasi dan tidak bisa dilanjutkan. Begitu kira-kira logikanya.

Ternyata, kejadiannya tidak benar-benar tepat seperti itu. Ada beberapa kegiatan peninggalan PNPM MP yang terus berjalan hingga saat ini. Sebagian malah bertransformasi dan terus berkembang.

Koperasi Wanita "Paduli Basamo" Kandang Melabung, Nagari Lawang Mandahiling Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar adalah contoh nyata dari program "peninggalan" Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Lembaga yang berkantor di pinggir jalan raya Batusangkar-Bukittinggi itu berawal dari sebuah kelompok wanita yang menjadi kreditur program Simpan Pinjam Perempuan (SPP) PNPM MP pada 2008.

Jumlah anggota awalnya sebanyak 20 orang yang sebagian besar berlatar belakang petani. Program Simpan Pinjam Perempuan (SPP) tersebut sangat membantu kebutuhan anggota, sehingga terus berkembang dan dinilai sebagai kelompok yang "sehat".

Berkat rasa tanggungjawab antara sesama anggota, dana yang bergulir pada kelompok itu terus bertambah hingga akhirnya bernilai ratusan juta rupiah.

Namun program itu terancam hilang saat PNPM MP dihentikan oleh pemerintah. Anggota kelompok wanita itu resah, karena dana bergulir yang selama ini bisa mereka manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, terancam hilang.

"Saat itulah, kami disarankan untuk membentuk koperasi, melanjutkan kegiatan kelompok yang telah berjalan enam tahun. Koperasi memungkinkan anggota meminjam untuk berbagai kebutuhan, meski awalnya dana yang diputarkan sebenarnya belum jelas," katanya.

Pada 2015, akhirnya badan hukum untuk Koperasi Wanita "Paduli Basamo" selesai diurus dengan anggota awal tetap seperti pada kelompok wanita yang menjadi asal yaitu 20 orang.

Beruntung, dana bergulir program PNPM tersebut, masih bisa dimanfaatkan dengan sistem pinjaman. Koperasi itu kemudian menjelma menjadi "tunggak tuo" atau tiang utama yang mampu "menopang" kebutuhan anggota. Berbagai kebutuhan, terutama untuk bertani dan memulai usaha dibantu oleh koperasi.

Sekarang koperasi yang seluruh anggotanya adalah wanita itu mengelola Rp350 juta dana bergulir "peninggalan" PNPM dan sekitar Rp170 juta modal sendiri untuk 60 anggota.

Dana bergulir PNPM itu sekarang di kelola oleh Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Salimpaung yang juga sudah berbadan hukum. Koperasi Wanita "Paduli Basamo" harus mengeluarkan bunga 1 persen per bulan untuk dana bergulir itu sehingga bunga yang diberikan pada anggota menjadi cukup tinggi yaitu 1,67 persen per bulan.

"Kami berharap ada bantuan berupa dana hibah dari pemerintah agar modal sendiri yang diputarkan koperasi bisa bertambah. Dengan modal sendiri, bunga yang diberikan pada anggota bisa dipangkas," katanya.

Tidak hanya bergerak di bidang simpan pinjam cara konvensional, koperasi ini berupaya mendukung anggota yang ingin mendirikan usaha sendiri dengan sistem bagi hasil.

Anggota yang ingin mendirikan usaha diberikan pinjaman modal untuk diputarkan. Tahap awal, pengelolaan dilakukan bersama dan keuntungan dibagi dua dengan sistem bagi hasil.

Setelah usaha itu mampu berdiri sendiri, dalam artian pengelolaan dan keuangan, maka usaha tersebut diserahkan sepenuhnya kepada anggota sementara dana pinjaman ditarik kembali untuk digulirkan pada anggota yang lain.

Berkat program itu, telah terbentuk tiga unit usaha masing-masing tiga toko serba ada dan satu toko pakaian yang telah diserahkan sepenuhnya pada anggota.

"Sekarang tiga unit usaha itu 100 persen milik anggota dan masih berjalan dengan baik," ujarnya.

Ke depan, koperasi tersebut berencana membuat program pembiayaan untuk sektor pertanian. Anggota yang mayoritas adalah petani, bisa mengajukan pinjaman untuk modal tanam dan membayar saat panen. Program itu diharapkan bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anggota.

Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) terakhir, tercatat Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi baru sekitar Rp65 juta dan total aset sekitar Rp608 juta.

Tegas pada anggota "nakal" jadi salah satu faktor koperasi bisa bertahan

Anggota yang "nakal", yang lunak gigi dari pada lidah saat mengajukan pinjaman dan tiba-tiba berubah seperti hantu yang sulit sekali ditemukan saat harus mengembalikan pinjaman akan selalu ada pada tiap lembaga.

Hal yang sama juga terjadi pada Koperasi Wanita "Paduli Basamo". Ada saja oknum anggota yang mencoba curang, tidak mau mengembalikan pinjaman, meski pada awalnya telah berkomitmen untuk tidak macet.

"Orang seperti ini, tegas kami keluarkan dari keanggotaan setelah kredit macetnya diselesaikan. Salah satu cara penyelesaian adalah "mengadu" hutang dengan simpanan wajib dan dana risiko," kata Desmita.

Dengan sikap tegas itu, tingkat Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet bisa ditekan hingga di bawah 1 persen.

Sementara itu Kepala Sub Bagian Tata Usaha Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Barat, Yusran Ance menyebut kemungkinan untuk mendapatkan dana hibah dari pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM selalu ada. Ia meminta Koperasi Wanita "Paduli Basamo" menyiapkan proposal dan rencana kerja ke depan untuk dinilai oleh kementerian.

"Jika dinilai layak, tentu akan mendapatkan bantuan. Apalagi koperasi wanita bersifat khusus dan tidak terlalu banyak jumlahnya," kata dia.

Data Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Barat, hingga 31 Desember 2018 terdaftar sebanyak 3624 koperasi yang beroperasi di daerah itu, namun hanya 2815 unit yang aktif. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar