Padang Panjang lanjutkan kerja sama dengan Fonterra Brand Indonesia, Ini tujuannya

id wahid,produksi susu,sapi,padang panjang,sumbar

Kapala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pangan dan Pertanian Padang Panjang Wahid.  (Antara Sumbar/ Ira Febrianti)

Padang Panjang, (ANTARA) - Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat melanjutkan kerja sama dengan Fonterra Brand Indonesia hingga 2021 untuk meningkatkan kualitas dan produksi susu sapi dari peternak dan pelaku usaha setempat.

Kapala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pangan dan Pertanian Padang Panjang Wahid di Padang Panjang, Selasa, mengatakan sejak 2013 perusahaan asal Selandia Baru tersebut sudah melakukan pembinaan bagi peternak mengenai tata cara memerah dan mengolah susu.

"Dari pembinaan itu telah banyak manfaat yang diberikan pada peternak terutama dalam meningkatkan kualitas susu dan peternak dibina bagaimana mengatur kandang, kesehatan hewan dan lainnya," jelasnya.

Di penghujung Mei 2019, Pemkot Padang Panjang dan Fonterra sudah melakukan pertemuan membicarakan program lanjutan berkaitan usaha susu sapi tersebut.

Produksi susu sapi rata-rata 11 liter setiap hari per ekor sapi yang laktasi. Jumlah sapi yang laktasi yaitu 109 ekor.

"Dengan pembinaan dari perusahaan itu misal dari cara memerah, pemberian pakan, merawat kesehatan dan lainnya produksi 11 liter per ekor itu diharapkan bisa bertambah," ujarnya.

Wahid mengatakan sejak tiga bulan jelang Ramadhan 1440 Hijriah permintaan susu cenderung meningkat sehingga rata-rata dalam waktu tiga hari susu sudah habis terjual.

"Ada peningkatan minat masyarakat mengonsumsi susu. Untuk meningkatkan produksi dengan menambah populasi kurang memungkinkan karena lahan di Padang Panjang terbatas," katanya.

Untuk program lanjutan yang akan dijalankan selain meningkatkan produksi susu, di antaranya upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik peternak maupun petugas dari bidang peternakan, mencari peluang pasar dan meningkatkan kualitas perawatan di 'rearing unit".

"Manfaat dari kerja sama ini sudah terasa. Sebelum ada pelatihan kandungan bakteri dalam susu mencapai satu juta per mililiter sementara usai pelatihan sudah di bawah 400ribu per mililiter, ini batas standar jumlah bakteri untuk produk susu kualitas ekspor," jelasnya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar