
Pertempuran Meletus di Mali Setelah Serangan Bom

Bamako, (antarasumbar.com/AFP) - Milisi Tuareg terlibat pertempuran dengan gerilyawan Arab di Mali utara Sabtu, sementara jet tempur Prancis, pesawat Amerika Serikat dan pasukan Chad juga melancarkan swrangan untuk menghentikan perlawanan pemberontak. Setelah merebut kota-kota di daerah utara dari tangan kelompok Al Qaida yang menguasanya sejak April 2012, serangan enam minggu yang dipimpin Prancis mengejar para gerilyawan yang mundur ke pangkalan-pangkalan mereka di gurun. Gerakan Arab Azawad (MAA), satu kelompok yang dibentuk Maret tahun lalu, mengatakan pihaknya menyerang kelompok Tuareg Gerakan Pembebasan Nasional Azawad (MNLA) di In-Khalil, dekat kota utara Tessalit-- daerah yang sama di mana para pembom bunuh diri menewaskan tiga orang Jumat. Boubakar Taleb, salah seorang dari para pemimpin MAA mengemukakan kepada AFP:"Kami menyerang In-Khalil pada pukul 0400 GMT (11:00WIB) dan menguasai daerah itu." Pertempuran di daerah yang terletak dekat perbatasan Mali dengan Aljazair itu,berhenti Sabtu petang, kata Mohamed Ibrahim Ag Assaleh, seorang juru bicara MNLA yang berpangkalan di Burkina Faso. Assaleh mengklaim MNLA yang bekerja sama dengan pasukan Prancis mengusir gerilyawan Islam dari Mali utara. MNLA menahan tujuh orang, katanya "enam mengaku dari Mujao (Gerakan bagi Tauhid dan Jihad di Afrika Barat) dan tiga dari kelompok Ansar Al-Charia". Menurut satu sumber di MAA dan sumber-sumber keamanan daerah, serangan-serangan udara Prancis untuk mendukung MNLA menghantam satu kendaraan kosong milik MAA dekat In-Khalil. Serangan udara Prancis akan mendapat dukungan dengan akan tibanya beberapa pesawat tanpa awak Predator dan 100 personil militer yang dikirim AS ke Niger untuk melakukan misi pengintaian guna mendukung pasukan Prancis di Mali. Pada Jumat, Chad yang juga mengerahkan pasukan di Mali menimbulkan korban terbanyak sejauh ini setelah terlibat baku tembak dengan gerilyawan Islam di daerah Ifighas. Tentara Chad mengatakan 65 gerilyawan dan 13 tentaranya tewas. Presiden Prancis Francois Hollande memuji keberanian tentara Chad yang ia katakan membuktikan "solidaritas Afrika pada Mali". Prancis mengirim pasukan 11 Januari untuk membantu tentara Mali mengusir gerilyawan Islam yang tahun lalu menguasai daerah gurun utara negara itu. (*/wij)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
