
Mantan PM Jepang Berkunjung ke Rusia Sebagai Utusan Abe

Tokyo, (Antara/AFP/Kyodo-0ANA) - Mantan perdana menteri Jepang Yoshiro Mori akan mengunjungi Rusia mulai Rabu sebagai utusan khusus Perdana Menteri Shinzo Abe untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin, kata juru bicara pemerintah Jepang pada Senin. Kedua negara terlibat satu sengketa teritorial berlangsung lama, baik Tokyo maupun Moskow berupaya mencari penyelesaian yang saling bisa diterima dan akan menjadi hal ini sebagai agenda utama pada pertemuan tersebut. Penyelesaian sengketa teritorial diharapkan akan membuka jalan bagi pertemuan tingkat tinggi antara Abe dengan timpalannya dari Rusia pada akhir tahun ini, mungkin pada musim semi, kata para anggota parlemen dan pejabat pemerintah. "Kami kira masalah teritorial" akan disinggung dalam pertemuan Mori-Putin yang direncanakan pada Kamis di Moskow, kata Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dalam konferensi pers. Pada pekan pertama Februari PM Shinzo Abe mengatakan bahwa ia ingin mengusahakan satu "solusi yang dapat diterima kedua pihak" atas sengketa wilayah dengan Rusia dan menanda tangani perjanjian perdamaian dengan Moskow. Pernyataan perdamaian Abe itu bertentangan dengan dengan sikapnya yang tidak berkompromi mengenai sengketa dengan China menyangkut kedaulatan atas pulau-pulau yang disengketakan. "Tidak ada perubahan dalam ketetapan hati saya untuk melakukan segala sesutu yang dapat saya lakukan bagi tercapainya satu perjanjian perdamaian dengan Rusia setelah menyelesaikan masalah Wilayah Utara," kata Abe, mengacu pada Kuril Selatan yang dikuasai Rusia. Pada Desember tahun lalu, Abe dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk memulai kembali perundingan mengenai penandatanganan satu perjanjian perdamaian secara resmi mengakhiri permusuhan Perang Dunia II yang terhambat akibat sengketa itu. "Dalam percakapan telepon itu, saya mengemukakan kepada Presiden Putin saya akan melakukan usaha-usaha untuk menemukakan satu solusi yang dapat diterima kedua pihak sehingga pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah Wilayah Utara itu," kata Abe kepada para pengunjuk rasa dukungan pemerintah yang diikuti sekitar 2.000 orang mantan penduduk pulau-pulau itu dan keturunan mereka di Tokyo. Pasukan Sovyet menduduki kepulauan itu, yang merupakan perairan kaya ikan di lepas pantai utara Hokkaido, pada hari-hari terakhir Perang Dunia II dan dihuni penduduk Jepang. Kepulauan itu kemudian dihuni kembali oleh warga Rusia tetapi tetap miskin dan bagian dari negara itu tidak berkembang. Pernyataan Abe itu diucapkan saat ketegangan antara Jepang dan China meningkat menyangkut kedaulatan atas Kepulauan Senkaku yang dikuasai Jepang di Laut China Timur, yang diklaim Beijing sebagai Diaoyu. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
