
Hama Tikus Serang Tanaman Padi 40 Hektare di Solok Selatan
Minggu, 29 Oktober 2017 15:22 WIB

Padang Aro, (Antara Sumbar) - Puluhan hektare tanaman padi di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat diserang tikus sehingga terancam puso.
Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Peternakan Solok Selatan Vera Septaria di Padang Aro, Minggu menyebutkan tanaman padi itu berada di Kecamatan Pauh Duo dan Sungai Pagu.
"Di Pauh Duo kemarin ada sekitar 40 hektare yang diserang tikus, sudah bisa diatasi," ujarnya.
Hari ini, katanya, Dinas Pertanian bersama petani di Nagari Pasir Talang Barat dan Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu membasmi tikus secara gotong royong dalam upaya pengendalian hama sebelum masa panen.
Di Sipanjang Tigo Lareh Nagari Pasir Talang, sekitar 15 hektare sawah telah diserang tikus dan terancam puso.
Sementara di Pasir Talang Barat, puluhan hektare telah mengalami puso.
"Hari ini petani di Pasir Talang Barat melakukan gotong royong membersihkan pematang dari rumput dan melakukan pengendalian hama tikus dengan cara pengasapan di lubang-lubang tikus mengunakan tiram," sebutnya.
Pengendalian hama tikus tersebut, katanya, tumbuh dari kesadaran petani. Selama ini, sebagian besar petani di Sungai Pagu masih mempercayai mitos bahwa tikus adalah hewan sakral sehingga dilarang untuk diburu.
"Petani di Sungai Pagu menganggap tikus sebagai 'puti' atau putri," ujarnya.
Pengendalian dan pembasmian hama tikus, katanya, tidak bisa hanya dilakukan sekali melainkan harus secara berkelanjutan.
"Pengalaman selama ini, petani hanya membasmi sekali kemudian dibiarkan sehingga muncul kembali tikus-tikus yang lain yang tidak berada di sawah tersebut," katanya.
Masa reproduksi tikus, sebutnya hanya singkat, yakni dalam usia 28 hari mereka telah bisa kawin dan beranak. Setiap induk tikus mampu melahirkan 15 sampai 40 ekor anak.
Pemerintah, katanya, telah menyediakan tiran dan racun tikus yang diberikan secara cuma-cuma kepada petani.
Munculnya hama tikus ini, katanya, karena petani tidak melakukan penanaman padi secara serentak sehingga ketersediaan makanan terus ada.
"Dengan tanam padi secara serentak, bisa diputus ketersediaan makanannya," ujarnya.
Ia mengajak masyarakat mengembalikan tradisi, yakni "mandabiah kabau nan gadang" (menyembelih kerbau) sebelum melakukan tanam padi secara serentak.
"Ini merupakan bentuk syukur petani dan mengembalikan kebiasaan tanam padi serentak," ujarnya. (*)
Pewarta: Joko Nugroho
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
