
Pengamat : Hujan Ekstrem Sumbar Fenomena Biasa
Kamis, 22 Desember 2016 16:41 WIB

Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat bidang atmosfer dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Dr Techn Marzuki mengemukakan hujan ekstrem yang terjadi beberapa minggu terakhir di Sumbar hanya fenomena biasa terjadi.
"Hujan ini hanya interaksi daratan Sumatera dengan lautan di sekitarnya dan sangat dipengaruhi angin dan temperatur air laut," ujarnya di Padang, Kamis.
Ia memaparkan hujan ekstrem terjadi saat daratan mendapat penyinaran matahari pada siang kemudian mengalami penguapan lebih cepat dari lautan.
Pada saat itu angin dari lautan yang membawa uap air membentuk awan di darat, awan inilah yang kemudian membentuk butir air dan hujan.
"Ini peristiwa hujan biasa namun bergantung angin yang datang dan pembentukan awan," katanya.
Hanya saja katanya, masyarakat perlu mewaspadai hujan saat siang dan sore hari karena peristiwa tersebut intensitasnya sering terjadi pada waktu tersebut.
"Hujan kemudian berhenti dan hujan lagi bergantung angin dan awan yang terbentuk," katanya.
Ia menambahkan fenomena cuaca global seperti angin siklon, El Nino dan La Nina dinilai tidak mempengaruhi hujan di Sumbar tersebut.
Sebagai contoh angin siklon yang mungkin terjadi akhir Desember dari sejarahnya juga tidak mempengaruhi hujan di Sumatera khususnya Sumbar karena cenderung menjauh dari khatulistiwa.
"Sebagai contoh siklon yvette yang ada di Australia Barat dinilai tidak akan mendekat ke Indonesia," katanya.
Untuk Sumatera, katanya kecil kemungkinan terjadi dampak, akan tetapi daerah Jawa atau Nusa Tenggara mungkin terkena dampak kecilnya.
Sedangkan El Nino dan La Nina diprediksi telah lewat waktunya sehingga hanya faktor lokal yang mempengaruhinya.
"Meskipun demikian hal ini berupa prediksi dan analisis ilmiah, upaya antisipasinya diperlukan," katanya.
Sementara itu sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ketaping Padangpariaman memprakirakan sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat, terutama di pesisir barat, hujan mulai 21 hingga 31 Desember 2016.
"Sumbar berpotensi diguyur hujan hingga sepuluh hari ke depan dengan intensitas sedang hingga lebat. Pada saat tahun baru juga hujan ringan," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Ketaping Padangpariaman Budi Samiaji yang dihubungi dari Padang.
Ia mengatakan, hujan disebabkan tekanan rendah di Samudra Hindia, bagian barat Kepulauan Mentawai serta belokan massa udara di perairan Sumbar. (*)
Pewarta: M R Denya Utama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
