
Pengamat: Sumbar harus Waspadai Asap Kiriman
Rabu, 13 Juli 2016 20:46 WIB

Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat lingkungan hidup dari Universitas Andalas Kota Padang Ardainis Arbain mengatakan, pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Barat harus mewaspadai kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan provinsi lain.
"Berdasarkan kejadian dari tahun-tahun lalu, kebakaran hutan di Sumbar itu sedikit sekali, api terbanyak ada di Riau," kata dia di Padang, Rabu.
Ia mengatakan seluruh perangkat daerah mulai dari kepala desa, wali nagari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga kepala daerah, serta masyarakat harus waspada asap kiriman dari Riau.
Pada tahun ini diperkirakan kebakaran hutan tidak sebesar tahun lalu, sebab intensitas hujan cukup tinggi walaupun sudah memasuki musim kemarau.
Saat ini seluruh pihak terkait sudah berkoordinasi satu sama lain seperti BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api, jika terjadi kebakaran hutan sekecil apapun api yang muncul, petugas langsung turun mematikan api.
Menurutnya koordinasi tersebut adalah instruksi langsung dari pusat untuk mengantisipasi kejadian Sumbar dan Riau diselimuti kabut asap dengan jangka waktu yang lama.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membiasakan membakar sampah di ladang atau di perbukitan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan.
"Itu merupakan kebiasaan, namun harus diwaspadai karena dapat menimbulkan kerusakan dan kebakaran tanpa disadari," ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Eka Lusti mengatakan banyak sekali dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kabut asap tersebut.
"Untuk jangka pendek penyakit yang bisa disebabkan kabut asap seperti infeksi saluran pernafasan atas, iritasi mata, dan asma. Sementara itu akibat jangka panjangnya adalah kanker paru-paru," katanya.
Ia juga mengatakan, kabut asap yang melanda Sumbar pada tahun 2015 hendaknya menjadi pelajaran bagi semua lapisan masyarakat dan jajaran pemerintah karena dari segi kesehatan sendiri akan banyak sekali dampak buruknya.
Sementara itu Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan titik panas di Sumatera bertambah dari 65 pada Senin (11/7), sehari kemudian menjadi 67 dengan tingkat kepercayaan 50 persen.
Tercatat, Riau masih menjadi daerah konsentrasi dengan 28 titik panas, Sumatera Selatan sembilan, Nanggroe Aceh Darussalam dan Jambi masing-masing lima, Bangka Belitung empat, sertan Bengkulu, Lampung dan Sumatera Barat masing-masing dua. (*)
Pewarta: Novia Harlina
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
