Logo Header Antaranews Sumbar

Polisi Turki Tembakkan Gas Air Mata Pada Hari Buruh

Senin, 2 Mei 2016 06:19 WIB
Image Print

Istanbul, (Antara/Reuters) - Polisi Turki menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air ke arah para pengunjuk rasa ketika terjadi perkelahian pada perayaan Hari Buruh di Istanbul.

Dalam insiden itu, polisi juga menahan beberapa orang sementara sejumlah demonstran berupaya menjangkau titik utama lapangan Taksim yang ditutup oleh pihak berwenang.

Pengamanan dalam keadaan ketat di berbagai penjuru kota terbesar Turki itu. Istanbul dua kali dalam tahun ini mengalami serangan, yang diyakini dilakukan oleh kelompok IS bersenjata.

Sekitar 15.000 personel polisi dikerahkan untuk mengamankan perayaan Hari Buruh dan pihak kepolisian juga mengawasi keadaan di jalanan dari helikopter-helikopter.

Seorang pria berusia 57 tahun tewas dalam sebuah kecelakaan setelah ia tertabrak truk air miliki kepolisian ketika pria nahas tersebut sedang menyeberang jalan, kata laporan stasiun televisi CNN Turk.

Lapangan Taksim sebelumnya menjadi lokasi perayaan Hari Buruh sejak 1977. Pada tahun itu, puluhan orang tewas saat demonstrasi berlangsung, yang disebut dalam sejarah Turki sebagai "Hari Buruh paling berdarah".

Lapangan itu dibuka kembali untuk menjadi tempat perayaan pada akhir tahun 2000-an namun lagi-lagi ditutup pada 2013.

Lapangan Taksim dijadikan titik utama unjuk rasa antipemerintah pada 2013. Saat itu, puluhan ribu orang berdemonstrasi menentang kepemimpinan Presiden Tayyip Erdogan, yang kemudian menjadi perdana menteri.

Lapangan yang sehari-hari menjadi daerah sibuk dan diwarnai keberadaan banyak kedai kopi dan hotel itu pada Minggu seluruhnya dipagari dan dijaga oleh polisi antihuru-hara dan polisi-polisi berbaju preman. Semua kendaraan umum menuju wilayah itu ditutup.

Polisi menembakkan gas air mata serta menyemprotkan air untuk menghentikan sekitar 150 orang yang sedang berjalan secara berkelompok untuk mencapai Taksim.

Ribuan orang menghadiri perayaan Hari Buruh itu di sebuah daerah yang telah ditentukan di distrik Bakiryov, yang dekat dengan bandar udara.

Perkelahian meletus di Bakiryov ketika polisi menangkap sejumlah pendukung Partai Demokratik Rakyat (HDP) yang pro-Kurdi setelah mereka mengumandangkan kata-kata "Jayalah Kurdistan". (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026