
Sate Jepang Mulai Digemari Warga Padang
Senin, 25 Januari 2016 20:54 WIB

Padang, (AntaraSumbar) - Yakitori atau sate Jepang mulai digemari oleh warga Kota Padang dan menjadi salah satu pilihan bagi penyuka masakan asal Negeri Sakura di daerah itu.
Insi Hidayatul Husna di Padang, Senin mengatakan, usaha makanan yang ia bangun bersama lima rekannya pada akhir 2015. Awal mereka memilih makanan tersebut karena ingin berbeda dengan pedagang lainnya yang berada di Tugu Gempa, sekitaran Taman Melati, Padang.
"Kalau sate yang ada di sini (Padang), biasanya memakai kuah. Namun sate yang kami jual tidak menggunakan kuah, melainkan saos dan kecap," katanya, yang merupakan mahasiswi Unand.
Karena makanan ini berbeda dengan sate yang di Sumbar, katanya, mereka memiliki strategi sendiri dalam mempromosikannya. Mereka mengajak teman-teman dekat satu kampus untuk mencicipi sate tersebut.
"Kemudian dari teman-teman itu, menyebar ke yang lainnya," katanya.
Kini, dalam seharinya sekitar 100 hingga 200 orang mengunjungi tempat mereka berjualan di depan Hotel Grand Inna Muara Padang. Warung sate yang bernama "Oppai Yakitori" buka mulai dari jam 17.00 WIB hingga 23.00 WIB. Untuk satu porsi dijual dengan harga Rp15.000.
"Bahkan sudah ada yang menjadi pelanggan tetap," katanya.
Untuk memberi menu yang lain selain sate yang berbahan ayam, mereka juga menyediakan "onigiri" atau nasi yang dicampur ikan tuna dan rumput laut atau disebut "nori".
Yasmine Citra, yang juga merupakan salah satu pendiri usaha tersebut, menyebutkan usaha yang mereka kembangkan sekarang salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi pengangguran.
Mereka kini mempekerjakan sebanyak tiga orang, yang kesemuanya di bagian produksi.
Ia menyebutkan, untuk membuka kuliner tersebut dibutuhkan modal awal sebesar Rp30juta.
Salah satu pembeli, Uci (24), mengatakan sate Jepang tersebut berbeda dengan sate-sate biasanya karena rasanya yang unik.
"Usaha seperti ini juga bisa memotivasi anak muda di Padang untuk membuka usaha yang berbeda dengan usaha pada umumnya," ujarnya.
Pembeli lainnya, Indah (23) mengatakan, meskipun sate tersebut menggunakan nama dari Jepang, namun bahannya tetap berasal dari lokal. Selain itu, katanya menambahkan, harganya juga terjangkau. (cpw)
Pewarta: Sri Hardianti
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
