
Pertamina EP Rantau Kembangkan Pohon Listrik
Kamis, 5 November 2015 11:32 WIB

Jakarta, (Antara) - PT Pertamina EP bekerja sama dengan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Field Rantau, Nanggroe Aceh Darussalam, mengembangkan sekitar 100 pohon penghasil listrik.
"Pohon yang oleh Masyarakat Aceh dikenal sebagai pohon kuda-kuda atau kedongdong hutan ini terbukti bisa menghantarkan daya listrik," kata Agus Amperianto, Field Manager PT Pertamina EP Rantau, di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan dari hasil riset awal, satu batang pohon diperoleh tegangan listrik sebesar 0,7 volt. Dengan menghubungkan beberapa pohon, baik seri maupun paralel, diperoleh voltase dan arus yang memadai untuk dikonversikan dalam bentuk daya listrik sedikitnya 12 watt sehingga dapat menghidupkan 4 buah bohlam LED masing-masing berdaya 3 watt untuk satu unit rumah.
"Tentunya makin besar daya yang diperoleh, makin banyak daya listrik yang bisa dimanfaatkan," ujar Agus.
Untuk menghasilkan energi listrik, menurut Agus, minimal pohon kedondong hutannya sudah berakar kokoh dengan diameter batang minimal 15-20 cm. Makin besar batang pohon yang dimanfaatkan maka lebih baik lagi untuk menghasilkan voltase listrik yang lebih banyak.
Agus mengatakan pengembangan pohon penghasil listrik ini sejalan dengan bisnis Pertamina yang memberikan perhatian penuh pada pengembangan energi baru dan terbarukan. "Kami berperan aktif mendukung program pemerintah dalam hal efisiensi sumber daya energi dan energi baru terbarukan," ujarnya.
Energi listrik dari pohon kedongdong hutan ini berawal dari riset Naufal Rizki salah satu siswa kelas II Madrasah Tsanawiyah Negeri Kecamatan Langsa Lama. Pertamina EP Field Rantau kemudian mengajak Naufal untuk mengembangan risetnya dalam skala lebih besar di PPMP yang didesain sebagai pusat belajar masyarakat.
Dari sana diharapkan lahir Socioecopreneur, sebagai bekal menuju kemandirian. Penemuan ini diharapkan dapat diaplikasikan bagi masyarakat miskin yang tidak mampu memasang listrik, dan tempat-tempat terpencil yang belum terjamah listrik, kata Agus.
Ia menjelaskan pengembangan pohon kayu listrrik akan diintegrasikan dengan penghijauan dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat. Pohon ini bernilai ekonomis karena daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan dahannya dapat digunakan sebagai pagar kebun masyarakat.
Selain untuk pakan ternak, daunnya juga bermanfaat untuk ramuan herbal bagi kesehatan. Kedondong hutan merupakan pohon favorit masyarakat Aceh untuk memagari kebun dan pekarangannya karena pohonnya lurus dan gampang tumbuh dengan hanya ditancapkan ke dalam tanah.
Karena bisa memperoleh listrik dengan biaya murah dan ramah lingkungan, masyarakat dengan sendirinya akan tertarik ikut menanam di ingkungan tempat tinggalnya serta merawatnya. "Akhirnya, lingkungan hijau, asri, dan terang karena nyala lisrik dari kedondong hutan," katanya. (*)
Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
