
Organda : Turunnya Harga Solar Tidak Pengaruhi Tarif

"Kebijakan pemerintah menurunkan harga solar dari Rp6.900 menjadi Rp6.700 cukup tipis, tidak mungkin menurunkan tarif angkutan, kata Ketua Organda Sumbar, S. Budi Syukur di Padang, Jumat.
Ia mengatakan, turunnya harga solar memang membantu pengusaha angkutan umum dan barang tetapi malah membuat bingung dalam penentuan ongkos angkutan umum.
Para penumpang angkutan umum memang meminta agar ongkos turun, tetapi akan sulit menghitung penurunannya karena kecilnya penurunan harga solar oleh pemerintah.
Akan berbeda jika harga solar turun sebesar Rp1.000, maka tarif angkutan umum akan bisa diturunkan.
Ia mengharapkan pemerintah dapat menurunkan harga BBM agar ekonomi kembali bergairah. Memberikan bantuan dan perlindungan ke sektor transportasi umum agar dapat melayani penumpang dengan baik.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang, Rudy Rinaldi mengatakan ongkos angkutan umum tidak akan mengalami penurunan dengan turunnya harga solar sebesar Rp200 karena kebanyakan angkutan umum di Padang menggunakan BBM jenis premium.
"Penurunan harga solar ini seharusnya berpengaruh pada angkutan barang," kata dia.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Sumbar Asnawi Bahar mengatakan, penurunan harga solar seharusnya berpengaruh pada biaya transportasi barang.
"Setidaknya produsen tidak menaikkan harga barang, lakukan penghematan biaya produksi agar industri-industri kecil terbantu," katanya.
Sementara itu, warga Kota Padang Vicha (21) mengatakan turunnya harga solar tidak terlalu berpengaruh pada angkutan umum.
"Bahan bakar yang dipakai angkutan umum kebanyakan jenis premium, seharusnya pemerintah menurunkan harga premium, kata dia.
Ia mengatakan premium sempat kosong di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum karena rencananya akan turun, tapi ternyata harganya tidak turun.
Salah seorang penumpang angkutan umum Ira (25) mengatakan ia sudah mengetahui harga solar turun, tapi tidak merasakan pengaruh apa-apa.
"Saya berharap tarif angkutan umum dapat diturunkan karena masyarakat sudah susah dengan kondisi ekonomi saat ini," katanya. (*)
Pewarta: Ayu Widiyastuti
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
