
Pemkot Sawahlunto: Dukung Pemberian Obat Fillariasis
Senin, 28 September 2015 20:36 WIB

Sawahlunto, (AntaraSumbar) - Pemerintah Kota Sawahlunt mengimbau seluruh komponen masyarakat daerah itu mendukung pelaksanaan pemberian obat fillariasis atau penyakit kaki gajah yang dicanangkan pada 1 Oktober 2015.
Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Sawahlunto dr Ambun Kadri di Sawahlunto, Senin, mengatakan pemberian obat tersebut merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan oleh jajarannya secara gratis kepada seluruh lapisan masyarakat dan keberhasilan program tersebut akan menjadi investasi kesehatan bagi masyarakat.
"Mereka akan terhindar menderita cacat permanen akibat penyakit itu," kata dia.
Dari hasil evaluasi pihaknya pada pelaksanaan program tersebut tahun 2013, pendistribusiannya mencapai 69 persen dari total jumlah penduduk Sawahlunto sebesar 65 ribu jiwa lebih.
Pencapaian tersebut melebihi dari target minimal yang ditetapkan yakni 65 persen. Sedangkan di tahun 2014 terjadi peningkatan pendistribusian, yakni mencapai 82,3 persen dari total jumlah penduduk.
"Namun yang masih menjadi catatan bagi kami adalah sejauhmana masyarakat penerima tersebut bersedia mengonsumsi obat yang diberikan secara cuma-cuma itu," ujar dia.
Pihaknya berupaya memastikan obat tersebut bukan sekedar sampai ke titik pendistribusian, tetapi semua yang terdata sebagai penerima juga dapat dipastikan mengonsumsi obat yang diberikan sehingga sasaran program nasional itu benar-benar tercapai.
Pihaknya mengakui, selama dua tahapan pemberian obat gratis tersebut memang ada ketakutan masyarakat dan memilih tidak mengonsumsi obat yang diberikan. Ketakutan tersebut terjadi akibat reaksi yang ditimbulkan obat itu yang dapat menimbulkan efek samping seperti mual, pusing, mengantuk, demam, diare dan alergi.
"Tapi dari pengalaman dua kali pemberian tidak ada efek yang berat yang diderita masyarakat," katanya.
Ia menjelaskan penyakit fillariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing dan dapat menimbulkan penderitanya mengalami cacat seumur hidup. Penyakit tersebut belum ada obatnya dan dapat menjangkiti semua orang tanpa mengenal usia.
Ketika terjangkit, selain pada kaki pembengkakan juga bisa terjadi di alat kelamin, payudara dan tangan.
"Kami berharap masyarakat penerima lebih melihat pada sisi berbahayanya penyakit ini bagi kesehatan dan bersedia sedikit menahan efek samping yang ditimbulkan obat tersebut untuk sementara waktu," kata dia. (cpw7)
Pewarta: Rully Firmansyah
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
