Logo Header Antaranews Sumbar

Mendagri Malaysia Katakan Kuburan-kuburan Massal Ditemukan

Minggu, 24 Mei 2015 18:38 WIB
Image Print
Kuala Lumpur, (Antara/AFP/Reuters) - Menteri Dalam Negeri Malaysia Zahid
Hamidi mengumumkan bahwa kuburan-kuburan massal telah ditemukan di
bagaian utara negeri itu dekat dengan kamp-kamp penahanan yang dikelola
para pedagang manusia, demikian satu laporan surat kabar Ahad
(24/5).

Menteri Zahid yang dikutip the Star dan pernyataannya dimuat di laman surat
kabar itu mengatakan kuburan-kuburan tersebut ditemukan di sepanjang
perbatasan dengan Thailand.

"Tetapi kami belum tahu ada berapa banyak. Kami kemungkinan besar akan menemukan jasad-jasad lagi," kata Zahid.

Harian
itu sebelumnya dalam laporan-laporannya menyebutkan makam-makam mungkin
berisi jasad ratusan migran asal Bangladesh dan Myanmar.

Operasi penyelamatan

Dari Desa Alaethakaw, Myanmar, sedikitnya delapan Muslim Rohingya dari
Myanmar dilaporkan termasuk di antara 200 migran yang diselamatkan dari
satu kapal oleh Angkatan laut Myanmar pada Kamis, menurut wawancara yang
dilakukan kantor berita Reuters, berbeda dari laporan-laporan resmi
yang menyebutkan semua migran di atas kapal itu berasal dari Bangladesh.

Myanmar
ingin menunjukkan bahwa operasi penyelamatan itu sebagai bukti bahwa
ribuan "orang perahu" bukan orang-orang Rohingya yang dianiaya asal
Myanmar, membantah pihaknya melakukan aksi diskriminasi terhadap
kelompok minoritas itu dan menolak tekanan supaya memebantu
menyelesaikan masalah tersebut.

Asia
Tenggara menghadapi krisis kemanusiaan yang melibatkan ribuan orang
yang diperdagangkan dari Myanmar dan Bangladesh ke Malaysia dan
Indonesia. Setelah operasi penumpasan mengganggu rute-rute
penyelundupan, banyak orang sekarang terperangkap di laut yang PBB
melukiskannya sebagai 'keranda terapung'.

"Ini
jelas memperlihatkan bahwa 'orang-orang perahu bukan dari Myanmar',
bukti kuat," kata Zaw Htay, seorang pejabat senior dari kantor presiden
dalam pernyataannya di Facebook yang mengumumkan penyelamatan kapal itu
pada Jumat.

Tetapi
dalam satu kunjungan ke sebuah desa terpencil di bagian baratlaut
Myanmar, tempat lebih 200 orang pria yang diselematkan sedang diberi
makan dan dirawat di satu sekolah Islam, wartawan Reuters mewawancarai
sekelompok Muslim Rohingya dari desa Kyak Taw di negara bagian Rakhine.

"Kami
tak punya pekerjaan dan nekad menumpang kapal itu," kata Marmot Rarbi,
23 tahun. Dia mengatakan para pedagang manusia membiarkan delapan pria
Rohingya naik kapal tanpa bayar, tetapi kemudian menuntut 6.500 ringgit
Malaysia untuk menyelundupkan mereka ke Malaysia.

Rarbi mengatakan dia di atas kapal itu selama lebih tiga bulan.

Ribuan orang Rohingya telah naik ke kapal-kapal yang memperdagangkan mereka.

Sebagian
besar orang Rohingya yang berjumlah 1,1 juta dan tinggal di bagian
barat Myanmar tak memiliki negara dan hidup dalam kondisi seperti
apartheid. Rohingya merupakan kelompok minoritas. Hampir 140.000 orang
terdampar dalam bentrokan-bentrokan mematikan dengan penganut Buddha di
negara bagian Rakhine pada 2012. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026