
Bentrokan Terjadi di Irlandia Setelah Perusuh Dicap sebagai Aib

Belfast, (ANTARA/Reuters) - Polisi Irlandia Utara diserang oleh kelompok layolis pro-Inggris, Jumat (4/1), saat menteri pertama provinsi tersebut mencap perusuh sebagai aib dan mengatakan mereka terjebak ke permainan pesaing mereka, nasionalis militan. Kerusuhan meletus sebulan lalu, setelah pemungutan suara oleh kanselir yang kebanyakan nasionalis pro-Irlandia guna mengakhiri tradisi pengibaran bendera Inggris, yang sudah berumur satu abad, dari Balai Kota Belfast setiap hari menyebar masa kerusuhan paling parah selama bertahun-tahun di kota itu. Pada Jumat, polisi diserang di bagian timur kota itu oleh kerumunan orang bertopeng yang melempar bom bensin, batu dan petasan. Polisi menyatakan seorang personelnya cedera dan polisi telah mengerahkan mobil bom air guna mengendalikan massa, yang terdiri atas sebanyak 400 pemrotes. Lebih dari 40 polisi cedera dalam gelombang pertama kerusuhan, yang berhenti saat Natal, tapi berlanjut lagi pada Kamis, kata Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu siang. Saat itu sebanyak 10 polisi cedera saat perpecahan di kalangan masyarakat kembali mencuat. Sedikitnya 3.600 orang cedera selama masa paling gelap Irlandia Utara, saat kaum nasionalis --Katholik-- mengupayakan penyatuan Irlandia memerangi pasukan keamanan Inggris dan kaum loyalis, Protestan, bertekad menjadi bagian dari Kerajaan Inggris. Menteri Pertama Peter Robinson, pemimpin kelompok kenamaan Protestan --Partai Uni Demokratik-- menyebut keputusan untuk menurunkan bendera tersebut sebagai "buruk dan provokatif" tapi mengatakan serangan harus diakhiri. "Mereka yang bertanggungjawab melakukan tindakan tak layak ... dan terjerumus ke tangan kelompok pembangkang --yang berusaha mengeksploitasi setiap kesempatan untuk lebih mendorong sasaran teror mereka," katanya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
