
Wamenlu: Indonesia-Iran Perlu Bangkitkan Kerja Sama Perdagangan

Jakarta, (Antara) - Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir menekankan Indonesia dan Iran perlu membangkitkan kembali semangat kerja sama ekonomi di antara kedua negara, khususnya di bidang perdagangan. Menurut keterangan pers Kementerian Luar Negeri yang diterima di Jakarta, Senin, Wamenlu Fachir berpendapat bahwa nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran saat ini belum menunjukkan potensi yang sebenarnya. "Untuk dua negara besar seperti Indonesia dan Iran, bahkan nilai perdagangan dua miliar dolar AS per tahun masih terlalu kecil," ujar dia. Oleh karena itu, menurut Wamenlu, kedua negara harus menghidupkan kembali bentuk kerja sama ekonominya sehingga dapat melampaui nilai perdagangan dua miliar dolar AS per tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Wamenlu A.M. Fachir pada saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Republik Iran untuk Indonesia Valioallah Mohammadi Nasrabadi pada Jumat (10/4). Senada dengan Wamenlu RI, Dubes Mohammadi menyampaikan komitmen yang sama dari Pemerintah Iran untuk kembali meningkatkan nilai perdagangan bilateral. Dia menyebutkan salah satu cara untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral adalah dengan melibatkan sektor perbankan kedua negara untuk mencari solusi bersama masalah atas penyelesaian transaksi ekspor dan impor. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran pada 2013 dan 2014hanya mencapai 568 juta dolar AS dan 430 juta dolar AS. Padahal, total perdagangan kedua negara sebelumnya selalu berada diatas angka satu miliar dolar AS. Penurunan nilai perdagangan yang signifikan itu terjadi karena berhentinya impor migas Indonesia dari Iran, sebagai akibat sanksi ekonomi perdagangan unilateral kepada Iran. Namun, potensi perdagangan antara Iran dan Indonesia sangat besar mengingat sifat perdagangan komplementer kedua negara. Iran membutuhkan hasil-hasil pertanian dan perkebunan Indonesia, seperti minyak sawit, teh, dan kopi. Sementara Iran adalah negara yang kaya dengan minyak dan gas, serta unggul pada industri energi, teknologi infrastruktur, dan manufaktur. Oleh karena itu, Wamenlu Fachir mengingatkan bahwa meskipun kedua negara tengah mengalami kesulitan pengembangan kerja sama perdagangan, kesempatan harus selalu diciptakan. Sehubungan dengan hal itu, delegasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) kedua negara telah saling berkunjung untuk menjajaki potensi yang ada. "Diharapkan keberhasilan negosiasi nuklir antara Iran dan negara-negara P5+1 di Lausanne, Swiss pada awal April 2015 dapat memberikan optimisme tersendiri untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi dengan Iran," ujar Fachir. Selanjutnya, untuk memajukan hubungan antarmasyarakat guna menjalin rasa saling pengertian antara masyarakat kedua bangsa, kedepanya kedua belah pihak sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang riset dan teknologi, pariwisata, kebudayaan, dan pendidikan. Terkait Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2015, Wamenlu RImengapresiasi konfirmasi kehadiran Presiden Iran Hassan Rouhani yangdiyakini akan memberikan kontribusi besar, mengingat posisi Iran saat ini sebagai pemegang keketuaan Gerakan Non-Blok. Selain itu, Wamenlu juga menyambut baik rencana delegasi pengusaha Iran yang akan hadir dalam ajang Pertemuan Bisnis Asia-Afrika (Asia-Africa Business Summit) 2015, yang akan berlangsung pada 21-22 April. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
