
Sapardi Djoko Damono: Saya akan Terus Menulis

Bagi Sapardi Djoko Damono menulis adalah sumber kebahagiaan. Menulis adalah suatu dorongan hati demi mencapai karya terbaik. Makin sering menulis, makin bagus pula hasilnya. Sapardi tidak mengincar penghargaan-penghargaan sastra. Dia menulis semata-mata karena menyukainya. "Tidak ada (target pencapaian). Bagi saya nulis, ya, nulis. Karya yang paling baik, ya, karya yang sering saya tulis. Maka, saya tidak akan berhenti menulis sampai mati," ujar Sapardi ditemui usai sesi tanda tangan "Trilogi Soekram" di Jakarta, Minggu (22/3). Novel baru "Trilogi Soekram" adalah gabungan buku fiksi karya Sapardi berjudul "Pengarang Telah Mati", "Pengarang Belum Mati", dan "Pengarang Tak Pernah Mati". "Trilogi Soekram" mengisahkan tokoh fiksi yang melompat dari buku untuk menggugat sang pengarang. Ia mengangkat hubungan rumit antara pengarang dan tokoh yang dikarangnya. Mengapa penulis yang merupakan ciptaan Tuhan tidak kekal, sementara tokoh karangan yang diciptakan manusia tetap abadi meski pengarangnya meninggal? "Akan tetapi, tujuan saya menulis bukan ingin abadi. Kalau menulis, saya merasa bahagia. Syukur-syukur kalau dibaca dan dapat honor," seloroh dia. Meski lebih dikenal sebagai penyair, Sapardi mengungkapkan sajak bukanlah tulisan pertamanya. "Sebenarnya sebelum menulis puisi, saya sudah pernah menulis cerita anak dalam bahasa Jawa. Akan tetapi, ceritanya ditolak karena dianggap tulisannya tidak masuk akal. Padahal, ceritanya benar-benar terjadi," kenang pria yang kerap mengenakan topi pet khasnya. Sapardi menulis puisi sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1957. Buku puisi pertamanya bertajuk "duka-Mu abadi" diterbitkan 12 tahun kemudian. Sajak-sajaknya terwujud dalam buku-buku puisi seperti "Mata Pisau", "Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?", dan "Hujan Bulan Juni". Sementara itu, buku nonfiksi yang ditulisnya meliputi "Novel Indonesia Sebelum Perang", "Bilang Begini Maksudnya Begitu", dan "Alih Wahana". Saat ini, Sapardi sedang mengerjakan versi novel dari puisi "Hujan Bulan Juni". Ketika masih disibukkan dengan kegiatan lain, seperti mengajar di kampus, menulis novel hanya dapat dikerjakan di sela-sela waktu senggang. Kini, setelah pensiun, Sapardi dapat berkonsentrasi penuh dalam menulis novel. "Saya berjanji pada diri sendiri untuk menerbitkannya pada bulan Juni," kata Sapardi. Puisi tersebut, lanjut dia, juga rencananya diadaptasi menjadi film oleh Luna Maya.Musikalisasi Puisi Sapardi juga bergelut di perguruan tinggi sebagai pengajar. Pensiunan Guru Besar Universitas Indonesia yang aktif di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu telah mengajar mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Kebiasaannya mengajar dibawa serta saat tampil di depan umum, termasuk ketika melayani sesi tanya jawab bersama para penggemar sastra Indonesia. "Saya ngomong sambil berdiri, ya, kalau di kelas ngajar sambil duduk tidak didengarkan," seloroh dia di hadapan peserta Kelas Hujan Bulan Juni, Minggu (22/3). Interaksi bersama mahasiswa di kampus membuat sajak-sajak Sapardi menjadi lebih dikenal. Tanpa sepengetahuan Sapardi, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia diam-diam membuat kaset rekaman berisi musikalisasi puisi karyanya, termasuk "Aku Ingin" dan "Hujan Bulan Juni". Kaset tersebut dijual di kampus pada era 1990. Tidak disangka, musikalisasi puisi itu menyebar ke berbagai tempat dan didengarkan relatif banyak orang. "Pas saya ke Surabaya, denger lagu itu. Ke Solo juga lagu itu diputar," ujar penyair yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Tiongkok, Jepang, Korea, Thai, Hindi, Portugis, Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan Italia. Tidak kurang dari 50 puisi karya Sapardi telah diwujudkan dalam bentuk musikalisasi puisi. Sapardi mengatakan bahwa tidak semua orang yang mengambil sajaknya untuk diwujudkan dalam versi lain, misalnya lagu dan komik, telah meminta izin kepadanya. Royalti? Tidak banyak. "Kalau lagu masuk film, mereka ngasih (uang). Film Garin Nugroho pakai lagu saya, mereka bayar kepada saya dan juga pembuat lagu," jelas Sapardi. Namun, selain dari sahabat-sahabat yang meminta izin dalam menggarap sajaknya, bisa dibilang Sapardi tidak mendapat satu sen pun. "Anda tidak bisa jadi penyair di Indonesia kalau tidak sadar puisi tidak memberikan apa-apa," ujar dia. Sapardi merelakan puisinya menjadi milik publik meski dari puluhan sajak yang menjadi lagu tidak banyak uang yang mengalir kepadanya. "Saya memang menikmati menulis puisi," tegas penerima penghargaan dari Freedom Institute pada tahun 2003 dan Akademi Jakarta pada tahun 2012 atas pencapaian bidang budaya.Sajak Khas Sapardi Pilihan kata dan tema sederhana yang mudah dipahami pembaca, barangkali itu salah satu ciri khas dari sajak milik Sapardi. "Jangan bikin yang ruwet, sajak itu sesuatu yang sederhana, manusiawi, dan terjadi sehari-hari," ujar penyair yang menerima penghargaan SEA-WRITE AWARD dari Thailand pada tahun 1986. Sapardi mencontohkan sajak "Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari" yang menceritakan peristiwa sehari-hari. "Kalau pagi kita jalan ke barat, di belakang kita kan matahari. Bayang-bayang ada di depan, masa saya harus memaksa agar saya di depan bayang-bayang? Maka, saya tulis Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan," papar dia. Dalam "Hujan Bulan Juni", Sapardi membayangkan cinta luar biasa antara hujan dan akar. "Justru karena Juni tidak ada hujan, saya bikin ini. Mungkin hujan jatuh karena ada yang sangat mengharapkan," kata penerima Hadiah Puisi Putera dari Malaysia pada tahun 1984. Sapardi juga mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya saat membuat puisi romantis "Aku Ingin". "Saya bayangin api dan kayu sedang bercinta," ujar dia. Sapardi mengemukakan bahwa dirinya kerap dihujani pertanyaan mengenai arti dalam puisinya. Kalimat "Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api" dalam "Aku Ingin", misalnya, menimbulkan rasa penasaran. "Tidak usah dipusingkan apa artinya, puisi itu untuk dihayati, tidak usah dipahami," ujar peraih Cultural Award dari pemerintah Australia pada tahun 1978. Setiap orang, kata Sapardi, berhak memaknai puisi sebebas mungkin. Tidak masalah bila interpretasi pembaca berbeda dengan yang dimaksud oleh penyair. "Penyair bilang begini, maksudnya begitu. Anda harus menebak-nebak maksudnya. Kalau tidak sama dengan saya, tidak masalah," papar dia. Penyair yang beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "Watercolor Poems", "Suddenly the Night", dan "Before Dawn" itu juga berbagi kiat untuk orang-orang yang ingin menerusi jejaknya. "Baca sebanyak-banyaknya, kemudian tiru," ujar dia. Sapardi mengatakan bahwa satu-satunya cara agar dapat menulis adalah meniru banyak tulisan orang lain. Referensi-referensi yang diserap lama-kelamaan akan membentuk ciri khas penulis. "Lama-lama akan jadi diri sendiri. Harus nulis puisi sebanyak-banyaknya, meniru sebanyak-banyaknya, kalau sudah meniru seratus orang akan jadi diri sendiri," kata dia. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
