Logo Header Antaranews Sumbar

Pejabat: Krisis Suriah Ancaman Pertanian di Jordania

Rabu, 18 Maret 2015 10:41 WIB
Image Print

Amman, (Antara/Xinhua-OANA) - Jordania pada Selasa (17/3) mengatakan bertahun-tahun krisis Suriah secara negatif telah mempengaruhi sektor pertaniannya, yang sudah mengimpor 90 persen tuntutan makanannya, demikian laporan kantor berita resmi Jordania, Petra. Menteri Periran dan Irigasi Jordania Hazam Nasser mengatakan ekspor pertanian negerinya ke Uni Eropa anjlok tajam berkaitan dengan kerusuhan yang berkecamuk di Suriah sebab pengekspor Jordania dulu biasa mengirim produk mereka melalui Suriah ke Uni Eropa. Dalam satu pertemuan dengan Direktur Jenderal Organisasi Pertanian dan Pangan Dunia Jose Graziamo, menteri Jordania itu mengatakan arus banyak pengungsi Suriah ke dalam Jordania juga telah mempengaruhi sektor tersebut, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi. "Ekspor buah dan sayuran dari Jordania anjlok secara tajam sehubungan dengan meningkatnya konsumsi lokal akibat besarnya jumlah pengungsi yang memasuki Jordania," kata menteri itu. Menurut data resmi, ada sebanyak 1,4 juta pengungsi Suriah di Jordania, dan 20 persen dari mereka tinggal di berbagai kamp. Sisanya berada di kota besar dan kecil di seluruh negeri tersebut. Saat memasuki tahun kelima, perang saudara di Suriah merenggut lebih dari 215.000 nyawa dan membuat setengah dari seluruh penduduk di negara itu mengungsi. Sampai akhir Agustus 2014, PBB memperkirakan 6,5 juta orang telah kehilangan tempat tinggal di Suriah, sementara lebih dari tiga juta orang telah menyelamatkan diri ke negara tetangga seperi Lebanon (1,14 juta), Jordania (608.000) dan Turki (815.000). Sebanyak 35.000 pengungsi lagi menunggu pendaftaran, sementara beberapa ratus ribu orang lagi tak termasuk di dalam jumlah resmi sebab mereka tidak mendaftarkan diri. Suriah masih terpecah menjadi banyak kelompok --pasukan pemerintah, kelompok garis keras, gerilyawan Kurdi, dan gerilyawan moderat. Sementara itu upaya diplomatik masih menemui kebuntuan, bahkan usul gencatan senjata terbatas di Kota Aleppo ditolak semua pihak. Krisis Suriah, yang berkepanjangan, akan menjadi lebih rumit dan tampaknya akan berlangsung terus selama beberapa tahun lalu akibat meningkatnya ancaman dari Negara Islam (IS), kata seorang ahli Inggris. Ada dua alasan utama bagi kebangkitan cepat IS setelah krisis meletus pada 2011, kata Neil Quilliam, Penjabat Kepala Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House --yang juga dikenal sebagai Royal Institute of International Affairs di Inggris, dalam wawancara belum lama ini dengan Xinhua. Perang di Suriah bermula dari unjuk rasa damai pada 15 Maret 2011 sebagai bagian dari gerakan Kebangkitan Arab (Arab Spring), yang juga berlangsung di Mesir dan Tunisia. Unjuk rasa itu berubah menjadi perang mengerikan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026