
Pemberontak Ukraina Umumkan Pertukaran Tawanan

Donetsk, Ukraina, (Antara/AFP) - Pemberontak pro-Rusia mengatakan mereka akan mempertukarkan tawanan dengan pihak Ukraina pada Sabtu sebagai bagian dari gencatan senjata, yang babak belur dan diharapkan Barat akan menurunkan konflik maut yang telah meracuni hubungan mereka dengan Moskow. "Hari ini (Sabtu), akan ada pertukaran antara kami dan pihak Ukraina," kata pejabat pihak pemberontak untuk masalah hak asasi manusia, Daria Morozova. Sekitar 40 tawanan dari kedua pihak, beberapa di antaranya dalam keadaan luka-luka, akan diserahkan kepada satu sama lain. Pertukaran akan dilangsungkan di wilayah yang dikuasai pemberontak, yaitu di kota Lugansk, kata Morozova. Para wartawan disertakan dalam iring-iringan yang membawa para tawanan --yang disekap pemberontak-- dari benteng separatis, Donetsk, ke Lugansk. Tentara-tentara itu berjenggot dan terlihat letih. Salah satu di antara mereka tangannya dibalut perban. Tidak ada konfirmasi segera dari pihak Ukraina soal pertukaran tawanan itu kendati pertukaran-pertukaran tawanan dalam jumlah kecil sebenarnya juga sudah berlangsung dalam minggu-minggu terakhir ini tanpa banyak diberitakan. Jika memang dilangsungkan pada Sabtu, pertukaran tawanan itu akan menjadi sikap kepatuhan --yang jarang ditunjukkan-- terhadap kesepakatan gencatan senjata yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kesepakatan itu sendiri telah berulang kali dilanggar sejak diterapkan mulai 15 Februari. Dalam pelanggaran yang paling parah, para separatis pro-Rusia menduduki sebuah kota strategis yang merupakan pusat transportasi, Debaltseve --terletak di antara Donetsk dan Lugansk. Serangan separatis itu memaksa 2.500 tentara Ukraina mundur di bawah serangan tembakan hingga menewaskan setidaknya 13 personel. Pemberontak menangkap lebih dari 110 tentara sebagai tawanan, merupakan penambahan tawanan --yang jumlahnya tidak diketahui-- pada kedua belah pihak. Jerman dan Prancis, perantara kesepakatan gencatan senjata yang disetujui oleh Ukraina, pihak pemberontak dan Rusia, tetap setia menunggu kendati pelanggaran-pelanggaran terjadi. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan di Paris, Jumat, ia semakin meyakini bahwa gencatan, yang mengarah pada penyelesaian berdasarkan perundingan, adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik Ukraina. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan konflik tersebut telah menewaskan 5.700 orang sejak muncul pada April tahun lalu. Berdasarkan kesepakatan soal gencatan senjata, kedua pihak akan menarik persenjataan berat mereka dari garis depan pada 3 Maret, melakukan pertukaran tahanan, mengadakan perundingan menyangkut otonomi lebih luas di wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak, dan pada akhirnya memulihkan kendali Ukraina di seluruh wilayah perbatasannya dengan Rusia. Tidak ada satupun dari langkah-langkah itu yang sejauh ini sudah dilaksanakan. Kiev dan pemberontak terus saling melempar tudingan bahwa pihak lawan melakukan penembakan, melancarkan serangan mortir dan roket yang mengincar posisi-posisi mereka. Pemberontak menyatakan pihaknya telah menarik persenjataan di beberapa wilayah, namun tidak ada konfirmasi soal itu dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa, badan yang memantau gencatan senjata. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
