
Militer Myanmar Tewaskan Puluhan Gerilyawan Etnis

Yangon, (Antara/AFP) - Puluhan anggota kelompok gerilyawan etnis separatis tewas sementara delapan lainnya tertangkap dalam pertempuran melawan tentara Myanmar di daerah yang berbatasan dengan Tiongkok, demikian kantor berita setempat melaporkan pada Ahad. Pihak militer Myanmar dalam beberapa hari terakhir melancarkan serangan udara dan darat dengan target pangkalan gerilyawan untuk membalas serangan kelompok separatis ke kantor militer di kota Laukkai, daerah Kokang yang menewaskan puluhan tentara. Pada Sabtu pagi pihak militer terlibat dalam insiden saling tembak dengan "kelompok pengkhianat" Kokang yang telah "menginfiltrasi" kota Laukkai, demikian kantor berita milik pemerintah Myanmar Global New Light melaporkan. Setelah pertempuran berakhir pada sore hari, pihak militer berhasil menyita 100 "senjata kecil...dan 13 mayat anggota kelompok bersenjata," tulis berita dari Global New Light. Pemerintah menyatakan bahwa kerusuhan kembali melanda daerah Kokang, negara bagian Shan, mulai pada 9 Februari lalu setelah sempat tenang sempat tenang selama enam tahun. Kerusuhan tersebut merupakan pukulan atas upaya rezim Myanmar untuk meredakan konflik etnis minoritas. Sebelumnya sejumlah orang yang tidak diketahui secara pasti jumlahnya mengungsi dari Kokang. Mereka yang beretnis Tionghoa menyeberang perbatasan menuju Tiongkok sementara yang lainnya pergi ke kota Shan, daerah Lashio. Sekitar 300-400 pengungsi Burma daeri daerah yang sama diperkirakan akan tiba di Lashio pada Ahad, demikian pejabat daeri Kementerian Informasi mengatakan kepada AFP. Para pengungsi itu akan bergabung dengan sekitar 500 lainnya yang sudah sampai sejak Jumat. Gerilyawan Kokang bergabung dengan Pasukan Pmebebasan Nasional Ta'ang (TNLA) dan juga Tentara Kemerdekaan Kaching (KIA). Kedua kelompok itu terus memerangi pihak militer pemerintah di daerah Shan dan negara bagian Kachin. Sampai saat ini masih belum jelas apa yang memicu pertempuran pada satu pekan terakhir yang bertepatan dengan perayaan Hari Persatuan pada Kamis lalu. Menteri Informasi Myanmar, Ye Htut, menyalahkan pemimpin gerilyawan Kokang, Phone Kya Shin. Dia juga mendesak Beijing untuk menghukum pejabat lokalnya yang diduga membatu kelompok gerilyawan di daerah perbatasan. Meski diwarnai dengan insiden saling tembak, pihak pemerintah bersama kelompok etnis bersenjata pada Kamis menandatangani komitmen perundingan pada Kamis yang bertujuan untuk membangun persatuan dengan prinsip federalisme. Pertempuran di negara bagian Kachin, yang muncul pada 2011 setelah 17 tahun gencatan senjata, dinilai menjadi halangan utama perungingan damai. Konflik di negara bagian itu membuat lebih dari 100.000 orang kehilangan rumah dan menjadi pengungsi. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
