
Terpaksa Memanen Padi dengan Perahu
Moda transportasi angkutan perahu, ternyata tidak hanya digunakan masyarakat untuk menangkap ikan di tengah lautan atau di danau. Namun sekarang ini, perahu juga digunakan masyarakat Jorong Talao, Nagari Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, untuk memanen padi mereka yang terendam air akibat meningkatnya elevasi Danau Singkarak seminggu belakangan ini.Apa boleh buat, meskipun hasil panen di areal rendaman air tidak sebanyak hasil sawah yang tidak terendam banjir, namun warga masih mengarapkan padi tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Selain hasil panen tak banyak, padi yang kami dapat pun juga menghitam. Derita lain pun harus kami alami, dimana pengusaha penggilingan padi tak mau menggiling padi kami menjadi beras dengan alasan akan membuat beras lainnya juga akan menghitam. Akibatnya, kami pun terpaksa menumbuk padi tersebut atau langsung menyemainya," kata Sulistia (42), seorang warga pada antara-sumbar.com, Sabtu.Kondisi tersebut, membuat penderitaan masyarakat semakin menjadi. Dan pada akhirnya, suara lesung dan alu yang telah lama dilupakan, kembali bergema di daerah itu.Sulistia, ketika ditemui sedang memanen padinya mengunakan perahu, mengatakan, padi tersebut terpaksa ia penen sendiri tanpa bantuan masyarakat lainnya, karena tak ada yang mau berendam di air setinggi pinggang tersebut."Lagi pula, kalau diupahkan, maka produksi tak akan sebanding dengan upah yang dibayarkan. Harga Rp50.000 per orang per hari, sangat berat bagi kami," katanya.Bahkan, kata Sulistia, Harga sebesar Rp50 ribu per hari, jauh lebih besar dibandingkan dengan upah harian mencangkul di sawah yang hanya sebesar Rp35 ribu per hari.Jika hal itu dipaksakan, setelah dihitung-hitung, saya harus mengeluarkan biaya Rp10 juta untuk memanen satu hektar lahan sawah hingga selesai. Jumlah tersebut sama banyaknya dengan uang yang didapat dari hasil panen padi jika padi itu bagus dan tidak terendam air, bebernya.Karena itu lah, Suslitia memilih memanen padi tersebut sendiri saja tanpa bantuan pihak lain. Apalagi menurutnya, dengan bekerja sendiri, dapat menutupi kebutuhan hidup satu istri dan keempat anaknya.Menurut Sulistia, musibah ini sudah pernah dilaporkan pemerintah nagari Singkarak kepada Pemkab Solok, namun hingga saat ini belum juga ada jaan keluarnya.Entah sampai kapan derita ini akan berakhir, kami juga tidak mengetahuinya. Minimal untuk proses bercocok tanam selanjutnya, air danau sudah dapat normal lagi dengan cara berkoordinasi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Singkarak yang diduga menggenang pelepasan air Danu Singkarak untuk memenuhi kebutuhan debet air agar kerja mesin pembangkit listrik tidak terganggu, harapnya mewakili pengaharapan ratusan pemilik sawah lainnya yang terendam air danau itu.***
Pewarta: Defil
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026