Logo Header Antaranews Sumbar

BMKG Catat Satu Titik Api di Sumatera

Selasa, 13 Januari 2015 17:30 WIB
Image Print

Pekanbaru, (Antara) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau mencatat terdapat satu titik api di Pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Bengkalis, Selasa, pukul 16.00 WIB. "Data "hotspot" kami deteksi di Pulau Bengkalis pada 13 Januari 2015 jam 4 sore. Hal ini disebabkan karena Riau mulai memasuki musim kemarau, ditandai dengan temperatur udara yang mencapai 32 derajat celsius dan hujan yang mulai berkurang," kata Kepala BMKG Riau, Sugarin di Pekanbaru, Selasa. Ia mengatakan saat ini telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan karena potensi kebakaran sangat tinggi. Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemadam Kebakaran Bengkalis, Suiswantoro melaporkan adanya terjadi kebakaran pada Selasa siang di Pulau Bengkalis. "Hari ini anggota di lapangan melaporkan terjadinya kebakaran lahan seluas 1.000 meter di Bengkalis, namun anggota Pemadam Kebakaran telah berhasil melakukan pemadaman api tersebut," kata Suiswantoro. BPBD Pemadam Kebakaran Bengkalis, demikian Suiswantoro, terus meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan dengan melakukan patroli secara rutin dan menyiapkan alat pemadam kebakaran. Kemudian ia mengatakan beberapa langkah antisipasi yang telah disiapkan untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan adalah melakukan pemberdayaan masyarakat siaga di lokasi yang berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan, kemudian membuat pintu air pada kanal kanal yang berkontur lahan gambut. Menurut Suiswantoro, saat ini BPBD telah memetakan tiga kecamatan yang rentan terjadi kebakaran, yakni Bukit Batu, Mandau dan Siak Kecil. Untuk itu, pada tahun 2014 pemerintah daerah telah membangun embung air sehingga bisa menjadi alternatif jika memang terjadi kebakaran. Suiswantoro mengatakan saat ini BPBD Bengkalis memiliki 126 personil yang siap bertugas untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan pada tahun mendatang. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026