
PBB: Bentrokan di Afrika Tengah Tewaskan Empat Orang

Bangui, Republik Afrika Tengah, (Antara/AFP) - Bentrokan komunal telah menyebabkan empat orang tewas dan lebih dari selusin terluka di Bambari, Republik Afrika Tengah, yang tidak stabil, kata misi Perserikatan Bangsa Bangsa MINUSCA. "Kota Bambari sekali lagi menjadi tempat yang serius dan kekerasan buta yang menyebabkan banyak korban, termasuk empat orang tewas, lebih dari selusin terluka dan rumah-rumah dibakar," kata MINUSCA dalam satu pernyataan yang disiarkan Kamis malam. Misi, yang merupakan bagian dari upaya internasional untuk memulihkan perdamaian dan membantu pemerintah transisi setelah kudeta 2013 yang menyebabkan perang saudara, mengatakan bahwa adalah "sangat prihatin dengan sifat kekerasan antar komunal ini". Kerusuhan di kota itu di tengah kondisi sangat miskin, negara terkurung daratan yang meletus setelah seorang tukang ojek tewas dan kendaraannya dicuri, menurut polisi paramiliter. Ketika tubuh pria itu ditemukan oleh penduduk setempat dan diakui sebagai dari Peul (Fulani), orang-orang terutama beragama Islam, warga Muslim meluncurkan pembalasan terhadap orang-orang Kristen. Pemberontak terutama koalisi Muslim Slka yang mengambil alih kekuasaan pada kudeta Maret 2013 telah mendirikan kantor pusat di Bambari sejak disalurkan dari ibu kota Bangui Januari lalu dengan bantuan intervensi militer Prancis. Sejak Juni, beberapa puluh orang telah tewas dan banyak lainnya terluka dalam bentrokan di kota perdagangan titik-panas, yang memiliki penduduk lebih dari 41.000, menurut sensus satu dekade lalu. Dihadapkan dengan pembantaian, penjarahan dan pembakaran oleh pasukan Slka, mayoritas komunitas Kristen membentuk kelompok pertahanan diri main hakim sendiri yang mengejar banyak Muslim keluar dari rumah mereka, dan menjadi terkenal karena kekejaman mereka seperti Slka. Dalam sebuah negara di mana peran negara telah dirusak selama berpuluh tahun kerusuhan, perselisihan terbaru yang terjadi pada Agustus lalu membuat mengungsi 500.000 orang dari sekitar 4,8 juta jumlah penduduk, menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi. Kelompok-kelompok bersenjata mengambil keuntungan dari kurangnya hukum dan ketertiban untuk merampok organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan di berbagai daerah, serta meneror penduduk lokal. Tiga pasukan asing telah dikerahkan dalam upaya untuk membantu menegakkan stabilitas: Operasi Militer Prancis Sangaris, yang pada Jumat menandai ulang tahun pertama CAR, misi Uni Eropa bernama EUFOR-RCA, dan MINUSCA PBB. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
