Logo Header Antaranews Sumbar

Sudan Minta Duta Perdamaian PBB Tinggalkan Darfur

Sabtu, 22 November 2014 17:07 WIB
Image Print

Khartoum, (Antara/Reuters) - Sudan meminta duta pemelihara perdamaian gabungan Uni Afrika-PBB di Darfur bersiap meninggalkan daerah itu, kata pejabat tinggi di tengah-tengah sengketa PBB dengan Khartoum menyangkut tuduhan perkosaan massal di wilayah itu. Sudan sebelumnya menolak mengizinkan pasukan perdamaian UNAMID mengunjungi satu desa untuk menyelidiki tuduhan perkosaan. Mereka kemudian diizinkan datang dan tidak menemukan bukti bahwa pasukan Sudan memerkosa sekitar 200 wanita dan gadis di sana, tapi UNAMID mengeluh karena banyak militer hadir dalam wawancara. "Sudan secara resmi meminta, saya secara resmi meminta agar UNAMID mempersiapkan diri untuk pergi. Itu tidak berarti mereka akan segera berkemas-kemas dan mengatakan selamat jalan," kata wakil menteri luar negeri Abdallah al-Azraq kepada wartawan. Ia menyatakan kepergian missi itu memerlukan waktu. Azraq tidak menyebut alasan bagi permintaan itu tetapi mengatakan pihaknya telah mengajukannya beberapa pekan lalu, sebelum laporan-laporan media mengenai perkosaan massal itu. Sudan membantah adanya perbuatan yang salah oleh tentaranya di Darfur dan mengatakan tuduhan-tuduhan perkosaan adalah bagian dari persekongkolan internasional untuk menodai citra mereka. Juru bicara UNAMID Ashraf Eissa mengonfirmasikan bahwa missi itu telah menerima permintaan itu dan mengatakan satu resolusi Dewan Keamanan PBB yang disetujui Agustus mengatakan satu strategi pergi sebagai satu opsi. Ia mengatakan satu penilaian akan selesai pada akhir Februari. Para diplomat Dewan Keamanan yang menolak namanya disebut mengatakan satu peninjauan atas tuduhan itu dapat menghasilkan opsi ekstrim penutupan missi UNAMID. Mereka mengatakan Khartoum tidak pernah menginginkan satu missi pemelihara perdamaian di negaranya. UNAMID dikerahkan di wilayah Darfur barat sejak tahun 2007. Hukum dan ketertiban ambruk di banyak daerah setelah suku-suku Afrika mengangkat senjara tahun 2003 melawan pemerintah yang dikuasai etnik Arab di Khartoum, menuduhnya diskriminatif. Azraq mengatakan Sudan menolak satu permintaan baru PBB untuk mengunjungi desa Tabit, dengan mengatakan,"Kami melihat permintaan ini sebagai satu usaha untuk menciptakan situasi yang meningkatkan ketegangan lebih dan keputusan-keputusan yang menentang terhadap Sudan." Bulan lalu, satu tinjauan internal PBB mengatakan UNAMID tidak memberikan laporan-laporan lengkap kepada markas besar PBB di New York mengenai serangan-serangan terhadap [para warga sipil dan pasukan perdamaian. Peninjauan itu diperintahkan setelah laporan-laporan media yang menyatakan UNAMID dengan sengaja menutupi rincian mengenai serangan-serangan yang mematikan. Konflik di Darfur telah menewaskan sekitar 300.000 orang dan menyebabkan dua juta orang terlantar, kata PBB. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026