
Farouk: Soal Amien Rais Tunggu Penyelidikan Kepolisian

Jakarta, (Antara) - Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammadmengatakan agar masyarakat tidak berspekulasi soal penembakan terhadapmobil milik Ketua Majelis Pertimbangan Partai Partai Amanat Nasional(MPP PAN) tapi menunggu hasil penyelidikan polisi. "Soal penembakan kaca mobil Pak Amien Rais, sebaiknya menungguhasil penyelidikan polisi," kata Farouk Muhammad di Gedung MPR/DPR/DPDRI, Jakarta, Kamis. Farouk Muhammad mengatakan hal itu ketika diminta tanggapannyamengenai penembakan oleh orang tidak dikenal terhadap mobil milik AminRais di halaman rumahnya di Yogyakarta, Kamis sekitar pukul 02.30WIB. Mantan Direktur Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) inimenjelaskan, sampai saat ini kepolisian belum menjelaskan apa jenispeluru yang digunakan penembak. "Kalaupun jenis pelurunya sudah diketahui, tidak bisa jugalangsung pihak tertentu tapi harus melakukan pembuktian-pembuktian,"katanya. Farouk juga enggan mengatakan, apakah penampakan tersebut adakaitanya atau tidak dengan dinamika politik yang berkembang. "Kita tunggu sajalah hasil penyelidikan kepolisian," katanya. Sehari sebelumnya, Rabu (5/11), Putra Amin Rais, Hafani Rais,anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN, memberikan pernyataan soalpenandatanganan nota kesepamahan (MoU) yang dilakukan Direksi PTKereta Api Indonesia (KAI) dengan China International Fund (CIF) dikantor Kementerian BUMN, di Jakarta, Senin (3/11). Hanafi menengarai pertemuan yang dihadiri beberapa menteriterkait itu dilakukan secara diam-diam yang seharusnya dilakuka secaratransparan. Sementara itu, Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo menyatakankaget terhadap pernyataan Menteri ESDM Sudirman yang menyebut,Pemerintah akan mencari minyak murah di Angola. "Karena, bisa dikatakan minyak di Angola adalah jatah China. Mendengar pernyataan dari Menteri ESDM itu, saya kemudian menduga-dugamengapa mencari minyak dari Angola, apakah ada "China connection" dipemerintahan," kata Dradjad di Jakarta, Rabu (5/11). (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
