Logo Header Antaranews Sumbar

Petani Indonesia Belum Siap Hadapi Industrilisasi Pertanian

Selasa, 7 Oktober 2014 09:31 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Ketua Koalisi Anti Hutang, Dani Setiawan menyatakan, petani Indonesia belum siap menhadapi industrilisasi sektor pertanian, karena mereka masih dihadapkan masalah pengolahan dan peningkatkan produksi. "Saat ini, petani masih dihadapkan permasalahan lahan baru yang semakin berkurang, masalah pupuk, racun hama, bibit dan lainnya," katanya di Jakarta, Selasa. Ia menjelaskan, saat ini, negara-negara ASEAN telah memberlakukan industrilisasi sektor pertanian dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petaninya. "Tahun depan, isu sektor pertanian tidak lagi bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana menggolah hasil pertanian tersebut. Persaingan sektor pertanian ini akan semakin ketat seiring diberlakukan Ekonomi Masyarakat ASEAN (MEA) 2015," ujarnya. Untuk mewujudkan industrilisasi pertanian ini, kata dia, pemerintah harus membenahi permasalahn-masalahan yang struktural yang dihadapi petani, misalnya, ketersediaan lahan pertanian baru, pupuk, sarana dan prasana produksi pertanian dan pemasaran hasil pertanian tersebut. "Saat ini, investasi sektor perkebunan khususnya sawit dan perumahan, telah menimbulkan dampak yang negatif terhadap sektor pertanian lokal, karena lahan-lahan untuk pengembangan pertanian telah dikuasai perusahaan perkebunan sawit tersebut, sehingga petani sulit mencari lahan baru untuk memperluas lahan pertaniannya," ujarnya. Selain itu, kata dia, biaya produksi pertanian yang semakin tinggi, seiring dibatasinya penyaluran pupuk, racun tanaman bersubsidi dengan harga yang cukup tinggi, sementara pada saat panen raya harga hasil pertanian petani lokal anjlok. "Saat ini, banyak petani yang beralih profesi karena mereka menilai pertanian tidak lagi menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka," ujarnya. Untuk itu, kata dia, pemerintah baru Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) untuk membenahi dan merevisi kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan akses ketersediaan lahan pertanian ini, kebijakan pupuk bersubsidi dan menyediakan lembaga untuk memasarkan produk pertanian petani lokal ini. "Selama ini, peran koperasi sektor pertanian untuk menampung dan memasarkan hasil pertanian belum optimal, bahkan sebagian koperasi ini belum mampu menampung dan memasarkan hasil pertanian sehingga pasar pertanian ini dikuasai tangkulak yang merugikan petani tersebut," ujarnya. (*/sun)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026