
Jenderal Allen akan Pimpin Koalisi Anti Ekstrimis

Washington, (Antara/AFP) - Jenderal (Purn) John Allen, mantan panglima pasukan NATO di Afghanistan yang juga memimpin pasukan di bagian barat Irak, telah diangkat untuk memimpin usaha internasional melawan para ekstrimis Islam, kata sejumlah pejabat Jumat. Jabatan tersebut akan memerlukan tindakan berimbang bagi purnawirawan bintang empat dari satuan marinir itu, yang punya banyak pengalaman dalam mengelola koalisi dan politik di Timur Tengah. Allen, 60 tahun, dipandang orang yang tepat untuk memimpin koalisi menghadapi para militan yang melakukan taktik brutal dalam gerakan mereka di Suriah dan Irak. Dia menulis dalam "Defence One" bulan lalu bahwa Negara Islam adalah entitas yang harus dihapuskan. "Jika kita menunda sekarang, kita akan membayar kemudian." Sebagai kepala misi pimpinan NATO di Afghanistan dari Juli 2011 hingga Desember 2013, Allen harus berinteraksi dengan Presiden Hamid Karzai -- dan juga para panglima dari sejumlah negara sementara mengawasi mulainya penarikan pasukan. Dan sebelum itu, sebagai orang nomor dua di Komando Pusat AS, yang mengawasi pasukan Amerika di Timur Tengah, Allen menghabiskan banyak waktunya untuk melacak Iran, musuh bebuyutan AS. "Dalam peran ini Jenderal Allen akan membantu terus membangun, mengkoordinasi dan mengawal koalisi global di sepanjang lini usaha-usaha melemahkan dan akhirnya menghancurkan ISIL," kata Marie Harf, wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, merujuk kepada para ekstrimis yang menguasai kawasan di Irak dan Suriah. Presiden AS Barack Obama, yang mengumumkan strategi menghancurkan kelompok itu, mengatakan pembentukan koalisi internasional yang mencakup negara-negara Arab dan Muslim vital bagi usaha anti Negara Islam (IS). Wakil Allen ialah Brett McGurk, deputi asisten menteri luar negeri urusan Irak dan Iran. Mantan panglima itu tidak akan mengawasi operasi militer, yang merupakan tugas dari Kepala Komando Pusat saat ini, Jenderal Llyod Austin. Tetapi Allen sepertinya akan meminta para anggota koalisi internasional menyumbang pesawat, amunisi, akses ke pangkalan-pangkalan atau bantuan lain untuk perlawanan itu. Allen tak asing lagi dalam politik sektarian di Irak, tempat dia membuat namanya masyhur dari 2006-2008 di Provinsi Anbar, Irak Barat, membangun aliansi dengan suku-suku Sunni yang menjadi militan-militan Al Qaida. Pendekatan dengan para suku pengikut Sunni kontroversial saat itu, dan beberapa perwira menentang usaha tersebut tapi kemudian terbukti berhasil, menghasilkan apa yang disebut "kebangkitan Anbar." Allen, seperti sebagian besar perwira militer AS, telah mengatakan Obama hendaknya membiarkan tentara di Irak daripada menarik mereka dari semua pasukan tempur pada 2011. Sejak Juni, Obama telah mengerahkan 1.600 prajurit untuk mengawal kedutaan AS dan memberikan "saran dan bantuan" kepada pasukan Irak dan Kurdi. Pada penghujung 2012 Presiden Obama menominasikan Allen menjadi panglima tinggi aliansi transatlantik NATO, salah satu pos paling bergensi di jajaran militer AS. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
