Logo Header Antaranews Sumbar

Gerilyawan Kuasai Bekas Pabrik Senjata Kimia Saddam Hussein

Rabu, 9 Juli 2014 13:47 WIB
Image Print

PBB, Amerika Serikat, (Antara/AFP) - Pmerintah Irak mengemukakan kepada PBB bahwa kelompok gerilyawan menguasai salah satu dari bekas pabrik-pabrik senjata kimia Saddam Hussein, menegaskan klaim Washington sebelumnya. Dalam sepucuk surat kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon dan diumumkan Selasa, Duta Besar Baghdad untuk PBB Mohamed Ali Alhakim mengatakan "kelompok-kelompok teroris bersenjata" memasuki lokasi proyek Muthanna pada 11 Juni malam setelah melucuti senjata tentara yang menjaga lokasi itu. Sebagai akibatnya Baghdad kini tidak dapat "memenuhi kewajibannya untuk menghancurkan senjata-senjata kimia", kata Alhakim dalam laporan tertulisnya, dan menambahkan "sisa-sisa dari bekas senjata-senjata kimia negara itu" masih tetap berada di lokasi itu. "Pemerintah akan memulai kembali usaha-usahanya memenuhi kewajibannya apabila situasi keamanan membaik dan menguasai kembali fasilitas itu," tambahnya. Pada 12 Juni subuh, sistem pengawasan lokasi itu, tidak berfungsi akibat aksi "teroris" menunjukkan adanya "penjarahan beberapa perlengkapan dan alat-alat", katanya. Surat itu mengonfirmasikan klaim Washington 19 Juni bahwa kelompok garis keras Sunni telah menguasai fasilitas itu. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki saat itu mengatakan bahwa dia berpendapat kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) tidak akan mampu memproduksi senjata-senjata kimia di sana karena semua bahan di lokai itu sudah tua dan susah dipakai. Gerilyawan itu menyebabkan krisis sebulan di mana satu aliansi yang dipimpin ISIL (kini bernama Negara Islam-IS) menguasai daerah-daerah luas Irak utara dan tengah utara Irak, menyebabkan ribuan orang mengungsi. Kompleks yang terletak hanya 72km barat laut ibu kota Irak, mulai memproduksi gas mustar dan zat-zat syaraf lainnya, termasuk sarin, awal tahun 1980-an segera setelah Saddam berkuasa, kata satu dokumen CIA (Badan Inteljen Pusat ) AS. Program itu diperluas dalam perang Iran-Irak satu dasa warsa kemudian, dan memproduksi 209 dan 394 ton sarin masing-masing tahun 1987 dan 1988. Tetapi CIA mencatat bahwa fasilits itu ditutup setelah Perang Teluk Pertama, ketika resolusi-resolusi PBB "melarang Irak memproduksi senjata-senjata kimia." Pada awal tahun 1990-an, lokasi itu digunakan untuk mengawasi usaha-usaha untuk menghancurkan cadangan senjata-senjata kimia Irak. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026