Logo Header Antaranews Sumbar

Gerilyawan Syiah Kuasai Kota di Yaman Utara

Rabu, 9 Juli 2014 13:52 WIB
Image Print

Sanaa, 9/7 (Antara/Xinhua-OANA) - Gerilyawan Syiah Yaman menyerbu pos militer dan merebut kekuasaan atas Ibu Kota Provinsi Amran pada Selasa malam (8/7), setelah berpekan-pekan pertempuran sengit melawan militer, kata seorang pejabat pemerintah kepada Xinhua. Gerilyawan Al-Houthi merebut kekuasaan atas markas satuan polisi militer dan pasukan kemanana khusus pada Selasa sore tanpa perlawanan di Provinsi Amran di bagian utara negeri tersebut, kata pejabat itu --yang tak ingin disebutkan jatidirinya. Mereka kemudian bergerak ke arah beberapa pos militer dan merebutnya, serta memperketat pengepungan atas beberapa markas satu brigade militer di Kota Amran, Ibu Kota Provinsi Amran, kata pejabat tersebut. Ia menambahkan gerilyawan sepenuhnya menguasai kota itu pada malam hari, setelah berjam-jam bentrokan dengan tentara. Warga setempat memberitahu Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu siang-- mereka melihat sejumlah mayat tergeletak di luar gerbang satu kompleks militer, dan batabantuan militer dihentikan oleh gerilyawan di pintu masuk utama Kota Amran di Jalan Raya 50 kilometer yang menghubungkan Amran di Ibu Kota Yaman, Sanaa. Gerilyawan Syiah merayakan kemenangan di kota itu, sementara tak ada komentar dari pemerintah. Pemerintah dan gerilyawan Syiah menandatangani dua kesepakatan gencatan senjata pada Juni, tapi kedua pihak gagal mematuhi kesepakatan tersebut. Para pejabat itu menuduh gerilyawan berusaha mengembangkan kekuasaan atas wilayah utara negeri tersebut, tapi gerilyawan membantahnya dan mengatakan mereka berusaha melindungi pengikut dari dari suku setempat. Gerilyawan Syiah telah mengembangkan kekuasaan mereka atas beberapa provinsi di Yaman Utara sejak meletusnya protes terhadap mantan presiden Ali Abdullah Saleh pada 2011. Mereka telah menguasai Provinsi Saada di Yaman Utara sejak Agustus 2010, ketika mereka menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan pemerintah dan mengakhiri perang yang kadangkala terjadi selama enam tahun. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026