Logo Header Antaranews Sumbar

Misi PBB di Libya Kurangi Jumlah Staf Akibat Ketidak-Amanan

Rabu, 9 Juli 2014 13:23 WIB
Image Print

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Misi Pendukung PBB di Libya (UNSMIL) untuk sementara mengurangi jumlah stafnya di negara Afrika Utara itu akibat kondisi tidak aman di lapangan, kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric kepada wartawan di Markas PBB, New York, Selasa (8/7). "Misi Pendukung PBB di Libya untuk sementara mengurangi jumlah stafnya di Libya, akibat kondisi tak aman yang berlangsung di negeri tersebut," kata Dujarric ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pers dalam taklimat harian di Markas PBB. "Keputusan untuk mengurangi tingkat kehadirannya diambil semata-mata akibat keprihatinan mengenai keselamatan dan keamanan staf," kata Dujarric, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi. Ia menambahkan, "Ini adalah tindakan sementara dan akan dikaji segera setelah situasi keamanan membaik." Libya, yang telah menjalani peralihan demokratis sejak penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011, baru-baru ini telah menghadapi ketegangan politik serta memburuknya kondisi keamanan, terutama di bagian timur negeri itu. Ketidak-amanan tersebut meliputi pembunuhan terarah, pemboman, penculikan dan serangan terhadap lembaga negara serta warga sipil. Pada Ahad (6/7) Pemerintah Sementara Libya menyerukan dihentikannya pertempuran antara pengikut jenderal pembangkang dan gerilyawan yang telah menggempur Kota Benghazi selama dua bulan terakhir. "Karena situasi dramatis, warga sipil di Benghazi hidup dalam ketakutan dan teror akibat pertempuran ..., pemerintah meminta semua pihak dalam konflik untuk meninggalkan kota dan segera dihentikannya pertempuran," kata Pemerintah Sementara Libya di dalam satu pernyataan. Kabinet Perdana Menteri sementara Abdullah Ath-Thani mengatakan ia memerintahkan dinas keamanan untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna memulihkan kestabilan di Benghazi. Kota di Laut Tengah tersebut, tempat kelahiran revolusi 2011 --yang menggulingkan Muammar Gaddafi, telah tegang sejak pengikut Jenderal Khalifa Haftar, yang membangkang, melancarkan serangan terhadap kelompok gerilyawan pada pertengahan Mei. Lebih dari 100 orang telah tewas sejak itu. Dalam kekerasan di Tripoli pada Ahad, kelompok bersenjata berjuang selama beberapa jam untuk menguasai pintu masuk barat ke Ibu Kota Libya tersebut. Beberapa mobil dan bangunan rusak di Permukiman Regata, dalam apa yang dikatakan seorang pejabat keamanan sebagai bentrokan antara kelompok bersenjata dari kota Zintan dan milisi saingan yang berpusat di Janzur, pinggiran barat Tripoli. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026